Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden RI Prabowo Subianto bakal membahas 'Prabowonomics' saat menghadiri World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos.
Dalam forum global tersebut, Seskab Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa Presiden akan berbicara mengenai konsep perekonomian yang dia usung dan menjadi pemikirannya selama ini. Konsep tersebut dikenal dengan istilah 'Prabowonomics'.
Lalu apa itu Prabowonomics?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Istilah tersebut pertama kali muncul dan masif sekitar 2003 hingga awal 2024, tepatnya saat kampanye Pemilihan Presiden 2024. Di mana beberapa pengamat ekonomi, analis pasar modal hingga media menggaungkan istilah tersebut.
Penggunaan istilah 'Prabowonomics' juga bertujuan membedakan gaya kepemimpinan Prabowo dengan presiden sebelumnya, Joko Widodo. Saat itu, masyarakat cukup familiar dengan istilah 'Jokowinomics'.
'Prabowonomics' berisikan program kerja yang disiapkan Prabowo selama kampanye dan bakal dieksekusi selama menjabat. Kini, memasuki 2026 kebijakan tersebut tak lagi sekadar janji kampanye, melainkan kerangka kerja operasional dengan fokus pada kemandirian (swasembada) dan pertumbuhan ekonomi inklusif.
Secara garis besar, 'Prabowonomics' merupakan perpaduan antara kelanjutan program hilirisasi era Jokowi, disertai pembangunan sumber daya manusia dan ketahanan pangan/energi.
Berikut inti Prabowonomics:
1. Target Ekonomi 8 Persen
Prabowonomics memiliki ambisi besar untuk lepas dari jebakan negara dengan pendapatan menengah atau middle-income trap. Alhasil, lahirlah target 8 persen per tahun, dengan harapan mampu menciptakan lapangan kerja.
Upaya untuk mencapai target tersebut yakni dengan mendorong investasi besar-besaran, deregulasi birokrasi, dan memperkuat peran BUMN serta sektor swasta sebagai mesin pertumbuhan.
2. Makan Bergizi Gratis (MBG)
Program unggulan Prabowonomics satu ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Program MBG dianggap sebagai bentuk investasi pemerintah dalam membentuk SDM berkualitas di masa depan.
Program ini diharapkan menciptakan efek pengganda alias multiplier effect di tingkat lokal. Salah satu upayanya dengan pemberdayaan UMKM pemasok bahan pangan, serta penciptaan lapangan kerja baru di sektor distribusi makanan.
3. Hilirisasi dan Industrialisasi Masif
'Prabowonomics' memperluas cakupan hilirisasi tak sebatas komoditas nikel, melainkan juga tembaga, bauksit, timah, hingga sektor pertanian dan kelautan.
Harapannya, Indonesia tidak lagi mengekspor bahan mentah, melainkan barang jadi atau setengah jadi yang memiliki nilai tambah tinggi.
4. Swasembada Pangan, Energi, dan Air
Prabowo menilai kedaulatan sebuah bangsa diukur dari kemampuannya memberi makan rakyat tanpa bergantung pada impor. Hal itu yang melandasi program pemerintah untuk membuka lumbung pangan (food estate) yang modern dan efisien.
Dari sektor energi dan Air, 'Prabowonomics' mendorong peningkatan penggunaan biodiesel (seperti B50 atau lebih tinggi). Selain itu, program kerja pemerintah juga menekankan pemanfaatan energi terbarukan domestik, sehingga ampuh menekan ketergantungan pada minyak impor.
5. Pengentasan Kemiskinan Langsung
Pilar terakhir dari 'Prabowonomics' satu ini tetap mempertahankan skema bantuan sosial, dengan target yang lebih presisi menggunakan data tunggal. Dengan begitu, angka kemiskinan ekstrem bisa dihapuskan melalui kombinasi bantuan tunai, perbaikan rumah layak huni, dan akses kesehatan.
(ins/sfr)

















































