Jakarta, CNN Indonesia --
Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, Vinfast, menegaskan Indonesia bukan sekadar pasar ekspansi, melainkan masuk sebagai daftar prioritas utama. Vinfast bahkan memposisikan Indonesia sebagai 'second home base'.
CEO Vinfast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menyebut Indonesia merupakan pasar strategis, seiring besarnya potensi industri otomotif nasional yang mendorong elektrifikasi kendaraan.
"Bagi Vinfast, yang pasti Indonesia merupakan pasar strategis, dan second home base setelah Vietnam, karena menjadi salah satu prioritas market secara company di Indonesia," kata Kariyanto dalam acara EVolution Indonesia Forum CNN Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam jangka panjang, Kariyanto mengatakan pihak Vinfast telah menyiapkan strategi untuk memastikan keberlanjutan bisnis di Indonesia. Salah satunya adalah pembangunan dan penguatan manufaktur lokal. Hal itu terlihat melalui pabrik yang diresmikan pada Desember 2025 dan kini bersiap memasuki fase produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada Februari akan dilakukan trial production. Untuk produksi massal, kami targetkan setelah Lebaran, sekitar April atau Mei," ucap Kariyanto.
Vinfast, diucapkan Kariyanto, juga berkomitmen memperkuat rantai pasok lokal guna memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Hal ini sejalan dengan insentif yang telah diterima perusahaan dari pemerintah.
"Karena kami sudah menikmati insentif, tentu ada komitmen untuk memenuhi TKDN. Targetnya dari 40 persen akan meningkat hingga 60 persen. Ini menjadi salah satu prioritas utama," katanya.
Perusahaan juga fokus pada penguatan dan alih teknologi. Kariyanto turut menegaskan operasi Vinfast di Indonesia tidak hanya sebatas perakitan kendaraan.
"Jadi tidak cuma assembly, tapi juga menyerap tenaga kerja di Indonesia sebanyak-banyaknya," ungkap Kariyanto.
Lebih lanjut, Kariyanto mengatakan Vinfast juga akan memperkuat ekosistem kendaraan listrik Indonesia. Bagi dia keberlanjutan bisnis di Tanah Air tidak bisa hanya bergantung pada produk semata. Ekosistem tersebut harus mencakup infrastruktur pendukung, seperti pengisian baterai hingga rantai pasok.
"Kami juga ingin memperkuat ekosistem kendaraan listrik. Karena bagi kami untuk terus bertahan dan berkembang, tidak hanya bertumpu produk, tapi juga diperkuat dari ekosistem," ujar Kariyanto.
(har)
















































