Bahaya Data Pribadi Bocor: Rekening Dikuras Hingga Nama Dipakai Pinjol

8 hours ago 13
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Data pribadi di era digital harus diperlakukan dengan sangat hati-hati agar tidak terjadi penyalahgunaan oleh orang tak bertanggung jawab. Simak beberapa bahaya penyalahgunaan data pribadi.

Data pribadi bisa didapatkan oleh para penjahat siber dan scammer, melalui berbagai cara mulai dari menanamkan malware, peretasan, hingga membeli data-data hasil kebocoran di forum online.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data-data yang bocor seperti nama lengkap, tempat tanggal lahir, hingga alamat tersebut menjadi pintu masuk para penjahat online untuk menjalankan aksinya.

Scam dan phishing

Data pribadi yang dimiliki para penjahat online bisa disalahgunakan untuk melakukan rekayasa sosial, hingga mengirimkan pesan penipuan scam dan phishing.

Data yang lebih banyak bisa dimanfaatkan para penjahat untuk membobol akun pengguna.

Pembobolan akun media sosial dan chatting bisa meningkatkan potensi keberhasilan penipuan rekayasa sosial.

Modus semacam ini biasanya menyasar keluarga dan kerabat dengan dalih korban berada dalam situasi darurat. Kemudian, keluarga dan kerabat diminta untuk mengirim sejumlah uang kepada penjahat.

Namun, jika pembobolan dilakukan ke akun perbankan, maka uang di rekening bisa dikuras oleh para penjahat tersebut.

Akun pinjol

Para penjahat juga bisa memanfaatkan data pribadi untuk mengajukan pinjaman di aplikasi pinjaman online. Alhasil, pemilik identitas harus menanggung beban tagihan dari platform pinjol padahal bukan dirinya yang melakukan pinjaman.

Kasus semacam ini bahkan pernah terjadi dalam jumlah besar di Garut, Jawa Barat pada 2023.

Sebanyak 407 warga kota tersebut dicatut identitasnya buat berutang ke pinjol. Pihak desa kala itu melakukan penelusuran usai menerima dan menduga Ketua Kelompok PNM Mekaar di desa tersebut adalah biang kerok kasus pencatutan nama buat pinjol itu.

Pembobolan akun

Di era AI, pembobolan akun bahkan tumbuh semakin canggih. Belakangan, tren berfoto dengan pose jari membentuk huruf "V" yang menyimbolkan perdamaian atau peace diketahui dapat menimbulkan risiko keamanan baru.

Teknologi AI disebut mampu mencuri data sidik jari hanya dari foto selfie yang diunggah ke internet.

Menurut pakar keamanan siber China Li Chang, foto yang diambil dari jarak 1,5 hingga 3 meter pun masih memungkinkan sekitar setengah detail sidik jari terlihat.

Kekhawatiran ini bukan tak berdasar. Pada 2025, sekelompok pelaku kejahatan di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China, dilaporkan mencoba membuka smart door lock menggunakan foto tangan pemilik rumah yang sebelumnya diunggah secara online.

(lom/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |