Bukan Gen X atau Milenial, Ini yang Disebut Generasi Xenial

4 hours ago 5

CNN Indonesia

Selasa, 23 Jun 2026 18:15 WIB

ilustrasi handphone Ilustrasi. Gen Xenial adalah gen yang da di tengah-tengan, antara gen X dan Gen Milenial. (istockphoto/Jacob Wackerhausen)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Tidak semua orang masuk dalam kotak generasi yang tegas seperti Generasi X atau Milenial. Di antara keduanya, ada kelompok kecil yang sering disebut Xennials atau dalam beberapa penyebutan populer di Indonesia dikenal sebagai generasi xenial.

Kelompok ini dianggap sebagai 'jembatan' yang menghubungkan dua dunia: masa kecil yang serba analog dan kehidupan dewasa yang sepenuhnya digital.

Bukan Gen X, bukan pula Milenial

Melansir Keep it Usable, generasi xenial merujuk pada mereka yang lahir sekitar tahun 1977 hingga 1983. Mereka tumbuh di masa ketika teknologi belum mendominasi kehidupan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di masa kecil, aktivitas sederhana seperti bermain di luar rumah, menghubungi teman lewat telepon rumah, hingga janjian bertemu di tempat tertentu tanpa bantuan ponsel menjadi bagian dari keseharian.

Namun, saat memasuki usia dewasa, dunia mereka berubah cepat. Internet mulai berkembang, ponsel genggam muncul, dan media sosial perlahan menjadi bagian dari kehidupan sosial.

Perubahan inilah yang membuat generasi xenial memiliki pengalaman yang unik dibanding generasi sebelum dan sesudahnya. Berikut beberapa ciri khas dari generasi xenial:

1. Hidup di dua era teknologi

Berbeda dengan Milenial yang sejak kecil sudah akrab dengan teknologi digital, generasi xenial mengalami 'transisi paksa' ke dunia digital saat mereka sudah remaja akhir atau awal dewasa.

Banyak dari mereka pertama kali mengenal internet dengan koneksi dial-up yang lambat, serta ponsel yang masih sangat sederhana. Adaptasi ini membuat mereka terbiasa mempelajari teknologi baru tanpa tumbuh ketergantungan penuh sejak kecil.

Pengalaman ini membentuk cara pandang yang khas yakni cukup nyaman dengan teknologi, tetapi tetap memiliki batasan dalam penggunaannya.

2. Adaptif, tapi tetap kritis

Menukil Kadence International, salah satu ciri utama generasi xenial adalah kemampuan adaptasi yang tinggi. Mereka bisa beralih dari cara lama ke cara baru dengan relatif cepat, mulai dari peta kertas ke GPS hingga surat elektronik menggantikan surat fisik.

Namun, mereka juga dikenal lebih berhati-hati dalam mengadopsi tren digital. Tidak semua hal harus diikuti, dan tidak semua teknologi dianggap kebutuhan utama.

Sikap ini membuat generasi xenial sering berada di posisi tengah, tidak terlalu konservatif seperti sebagian Generasi X, tetapi juga tidak seimpulsif sebagian perilaku digital Milenial.

3. Gaya konsumsi yang lebih selektif

Dalam hal konsumsi, generasi xenial cenderung mengutamakan kualitas dibanding kuantitas. Mereka lebih memilih produk yang tahan lama, fungsional, dan memiliki nilai jangka panjang.

Kesadaran terhadap kualitas ini juga sering diiringi dengan pertimbangan etika, seperti keberlanjutan dan transparansi merek.

Selain itu, pengalaman hidup juga lebih diutamakan dibanding sekadar kepemilikan barang. Namun, keputusan mereka biasanya lebih terukur dan tidak terburu-buru.

Meski konsep generasi xenial membantu memahami pola perilaku tertentu, tidak semua orang bisa langsung dikelompokkan dengan rapi. Faktor seperti latar belakang keluarga, akses teknologi, budaya, hingga kondisi sosial-ekonomi sangat memengaruhi pengalaman seseorang, bahkan dalam satu rentang tahun kelahiran yang sama.

Dengan kata lain, label generasi hanya gambaran umum, bukan aturan yang kaku. Generasi xenial akhirnya menjadi kelompok unik yang tumbuh di persimpangan dua zaman besar, dunia tanpa internet dan dunia yang sepenuhnya terhubung. Mereka memahami keduanya, tetapi tidak sepenuhnya menjadi bagian dari salah satunya.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |