CNN Indonesia
Rabu, 20 Mei 2026 15:30 WIB
Ilustrasi. Kemendukbangga/BKKBN menargetkan sekitar 1 juta keluarga masuk dalam program GENTING sebagai upaya untuk menurunkan stunting di Indonesia. (CNN Indonesia/Febria Adha Larasa)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menargetkan sekitar 1 juta keluarga masuk dalam program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) sebagai upaya mempercepat penurunan stunting di Indonesia.
Program tersebut menyasar keluarga risiko stunting (KRS) dari kelompok desil 1 atau keluarga miskin, terutama ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, dan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN Yuni Hastuningsih mengatakan, berdasarkan hasil verifikasi Pendataan Keluarga 2025, terdapat sekitar 41,4 juta keluarga yang memiliki pasangan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, atau balita.
Dari jumlah tersebut, sekitar 8,1 juta keluarga teridentifikasi sebagai keluarga risiko stunting. Sementara sekitar 1,05 juta di antaranya masuk kategori KRS desil 1 atau keluarga miskin yang menjadi sasaran utama program GENTING.
"Dari 8 juta sekian ini, kemudian disaring untuk desil 1, artinya ini adalah keluarga miskin, itu ada kurang lebih 1 juta keluarga," kata Yuni dalam diskusi di Kantor BKKBN, Jakarta Timur, Rabu (20/5).
Menurut Yuni, satu juta keluarga tersebut kini menjadi fokus utama program GENTING yang sebelumnya masuk kategori quick win dan kini ditetapkan sebagai program prioritas.
"Nah, saat itu keluarga inilah yang menjadi fokus Kemendukbangga untuk menjadi sasaran program gerakan orang tua asuh cegah stunting atau GENTING," ujarnya.
Ia menjelaskan, program GENTING dijalankan melalui pendekatan gotong royong dengan melibatkan masyarakat sebagai orang tua asuh bagi keluarga risiko stunting, utamanya pada 1.000 hari pertama kehidupan yang menjadi periode krusial dalam pencegahan stunting.
BKKBN mencatat, keluarga risiko stunting ditentukan berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari tidak memiliki jamban layak, akses air minum yang tidak aman, hingga kondisi '4 terlalu' seperti melahirkan terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, atau memiliki anak terlalu banyak.
"Yang pertama adalah keluarga ini tidak memiliki jamban yang layak, itu ada 2,9 jutaan. Kemudian keluarga ini tidak memiliki air minum utama yang layak, itu jumlahnya ada 1,7 juta," ujar Yuni.
Stunting sendiri masih menjadi perhatian serius pemerintah meski prevalensinya terus menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, pemerintah menargetkan angka stunting turun hingga di bawah 10 persen pada 2030 dan kurang dari 5 persen menuju Indonesia Emas 2045.
"Walaupun trennya sudah menurun, prevalensi stunting di 2025 kemarin mencapai 18,8 persen, tetapi kita juga terus melakukan upaya-upaya agar ada capaian yang lebih signifikan di tahun yang datang," ujarnya.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google


















































