Jakarta, CNN Indonesia --
Wajah Arief Kamarudin (34) datar ketika jari-jari tangannya memusnahkan seekor ikan sapu-sapu. Dengan sekali nafas, kedua tangan Arief menekuk leher sapu-sapu hingga terbelah dan mati.
Ikan sapu-sapu hidup dan berkembang biak tanpa kendali di Ciliwung. Ikan ini menggali lubang-lubang di tepi sungai sebagai tempat telur, merusak struktur tanah, dan menyingkirkan ikan-ikan lokal yang dulu mendominasi Ciliwung.
Hampir setiap hari Arief menangkap sapu-sapu di Sungai Ciliwung untuk dimusnahkan. Ia terjun ke sungai seorang diri, kadang bersama teman, dengan perlengkapan seadanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arief biasa menyisir dinding-dinding tanah Ciliwung. Ia menyelam, kemudian merogoh dinding-dinding Ciliwung dengan tangan telanjang untuk menangkap sapu-sapu. Tapi, Kamis (29/1) itu, ia tak terjun ke Ciliwung.
Jakarta masih diguyur gerimis. Arus Ciliwung di Jagakarsa, Jakarta Selatan, tempat Arief bermukim, lebih deras dari hari-hari biasa. Tumbuh dan bermain di Ciliwung, Arief hafal betul karakter sungai hingga perubahannya.
Bagi Arief Ciliwung bukan sekadar sungai yang membelah Jakarta. Ia masih ingat masa kecilnya di sungai itu. Mata air banyak. Udang bisa ditangkap dengan hanya tangan kosong dari pinggiran.
Dulu kenang Arief, masih banyak burung dan ayam berkeliaran mencari makanan di bantaran. Atau ketika ikan-ikan lokal seperti baung, tawes, dan lele liar masih mudah dijala.
"Sekarang kalau dapat ikan selain sapu-sapu, kayak dapat award," kata Arief saat berbincang dengan CNN Indonesia pekan lalu.
Sejak kecil, Arief sering ikut ayahnya untuk menjala. Ikan sapu-sapu sudah ada di Ciliwung sejak dulu. Namun, kenang dia, saat itu jumlahnya tak mendominasi.
Arief mencontohkan, jika dulu menebar jala, dari sepuluh ekor ikan yang didapat, tiga hingga lima ekor adalah ikan asli Ciliwung, sisanya sapu-sapu.
Sekarang, setiap kali menebar jala, ikan yang terjaring adalah sapu-sapu. "Kalau dapat satu aja ikan lain, udah bagus itu," kata Arief.
Arief Kamarudin (34), konten kreator lingkungan, menyusuri bantaran Sungai Ciliwung di Lenteng Agung, Jakarta, Sabtu, 31 Januari 2025, memburu dan memusnahkan ikan-sapu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif asal Amerika Selatan. Menurut Arief, di habitat aslinya, ikan ini memiliki banyak pemangsa alami. Namun di Ciliwung, berdasar pengalaman Arief, pengendali ikan itu hampir tak ada.
Tanpa ikan predator, sapu-sapu bisa bebas memakan alga sekaligus telur ikan lain. Serbuan tak terkendali dan perilaku sapu-sapu yang agresif membuat populasi ikan lain di Ciliwung tak bertambah.
"Kan [sapu-sapu] omnivor, alga di dasar sungai dimakan sama sapu-sapu, kalau ada telur ikan lain, ikut kemakan sama dia," ujar Arief.
Dewi Elfidasari dalam buku Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung menyatakan pada 1910 terdapat sebanyak 187 jenis ikan yang hidup pada DAS Ciliwung, salah satunya adalah ikan sapu-sapu.
Lalu sejak 2009, mulai terjadi penurunan jenis ikan dan hanya terdapat 20 jenis ikan di Sungai Ciliwung. Dari jumlah itu 5 jenis diantaranya adalah jenis asing, yaitu ikan yang berasal dari negara lain termasuk ikan sapu-sapu.
Keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung disebut menjadi ancaman bagi spesies asli karena ikan ini dapat memakan apa saja sehingga mengganggu kelimpahan jenis plankton yang menjadi sumber bahan makanan bagi ikan-ikan lain.
Ikan sapu-sapu juga disebut dapat menyebarkan parasite dan pathogen yang dapat membahayakan ikan asli di Sungai Ciliwung
Penurunan keanekaragaman jenis ikan di Sungai Ciliwung pada 2010 mencapai 92,5 persen. Ada banyak faktor pemicunya, salah satunya adalah keberadaan ikan sapu-sapu yang tidak mempunyai predator maupun kompetitor di Sungai Ciliwung.
"Hal ini menyebabkan ikan sapu-sapu menjadi kompetitor yang sangat handal bagi seluruh jenis ikan asli di perairan Sungai Ciliwung," tulis Dewi.
Memusnahkan sapu-sapu
Arief bercerita dulu jika ayahnya menjala dan mendapat sapu-sapu, ikan itu tak pernah dibawa pulang, tapi dimusnahkan. Kadang dibuang, kadang dipatahkan, kadang diinjak.
Dengan keresahan yang sama soal populasi ikan sapu-sapu sekarang, Arief turut melakukannya. Dalam 2-3 jam sehari, Arief turun ke Ciliwung, menjala dan mencari telur sapu-sapu di pinggiran sungai.
Ia bisa mendapat 30-40 ekor sapu-sapu sehari. Lalu memusnahkannya. Namun, jumlah yang didapatnya itu sebenarnya nyaris tak berarti dibanding laju perkembangbiakan ikan tersebut.
"Saya ambil telur sepuluh, besok lahir seribu," kata dia.
Aktivitas Arief mencari sapu-sapu dan memusnahkannya itu didokumentasikan dan diunggah di media sosial.
Awalnya, sejak 2019, Arief sudah mendokumentasikan Ciliwung lewat media sosial. Kontennya sederhana seperti bermain di sungai, mencari ikan, berenang, membakar hasil tangkapan.
Lalu pada September-Oktober 2025, ia mengunggah konten tentang telur ikan sapu-sapu. Saat itu, video tersebut ramai di media sosial. Arief pun rutin mengunggah konten soal sapu-sapu.
Lewat sapu-sapu, Arief ingin menyampaikan isu yang lebih besar yakni soal sampah, limbah, rusaknya ekosistem Ciliwung.
"Soal Ciliwung, ekosistem, sampah dan limbah. Memang kebetulan sapu-sapu lagi naik daun banget, saya bahas itu, karena mungkin kalau saya bahas sampah, belum tentu ramai. Makanya strategi saya adalah oke sapu-sapu lagi rame nih, saya manfaatkan sebaik mungkin. Di sela-sela saya bahas sapu-sapu, saya bahas sampah," kata dia.
Nilai ekonomi sapu-sapu
Beberapa tahun terakhir, Arief ikut mencari telur ikan sapu-sapu yang berada di dalam dinding-dinding lubang bantaran sungai.
Itu menjadi sampingan Arief sesekali mencari duit. Sebagai seorang freelance fotografer, ia paham betul pekerjaan tidak selalu ada. Telur ikan itu dijual Rp5 ribu per bonggol.
"Saya anak kali nih, saya tahu nyari telur sapu-sapu. Nah, telur sapu-sapu itu bisa dijual seharga Rp5.000 per bonggol. Untuk dibuat umpan mancing lele galatama," kata Arief.
"Bukan yang sampingan saya cari rutin. Cuma kalau kayak misalnya, 'nyari ah', atau ada yang pesen, 'Rip, telur sapu-sapu dong cariin'. Satunya goceng kan, kadang gua dapet sepuluh, Rp50 ribu," katanya.
Dari sapu-sapu Arief hanya mengambil telurnya. Sementara untuk dagingnya, Arief tidak pernah menjualnya.
Ia mengaku mengenal 'nelayan' sapu-sapu di Ciliwung yang setiap hari harus menyetor hingga 25 kilogram ikan karena adanya permintaan.
Ikan sapu-sapu tersebut dijual dalam kondisi fillet dengan harga sekitar Rp15 ribu per kilogram. Arief mengaku tak tertarik.
Arief memamerkan telur sapu-sapu hasil tangkapannya. Dia menjual telur itu yang laris digunakan sebagai umpan pancing. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Belakangan, pemberitaan salah satu media mengungkap soal siomay menggunakan bahan ikan sapu-sapu.
Arief mengatakan ikan itu memang boleh dikonsumsi. Namun, persoalannya bukan soal boleh atau tidak, melainkan soal aman atau tidak.
Ia mengutip penelitian Dewi Elfidasari dari Universitas Al-Azhar Indonesia yang menyebut ditemukan puluhan jenis logam dalam tubuh ikan sapu-sapu.
"Prof Dewi meneliti sapu-sapu itu memiliki kandungan pas dibikin abon, memiliki kandungan protein tinggi, lemak rendah, dan kadar air yang rendah. Itu bagus untuk jenis ikan. Tapi di sisi lain, logamnya juga ada. Jadi proteinnya tinggi sebenarnya, logamnya juga ada," katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok menjelaskan ikan sapu-sapu secara biologis bisa dikonsumsi jika berasal dari hasil budidaya yang terkontrol, bukan di sungai atau waduk yang tercemar.
"Dalam kondisi inipun masih harus disertai dengan uji laboratorium (logam berat maupun mikrobiologi). Pada kali yang tercemar, risiko kontaminasi cemaran logam berat berbahaya sangat tinggi dan kontaminan lain seperti E coli yang berbahaya jika dikonsumsi," kata Hasudungan.
Ia menjelaskan konsumsi ikan segar di Indonesia mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mengatur ambang batas maksimum kontaminan seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan arsen (As).
Namun, ikan hasil tangkapan liar seperti ikan sapu-sapu yang berada pada sungai tercemar biasanya tidak melalui sistem pengawasan dan keamanan mutu.
Oleh karena itu, ikan hasil tangkapan liar tidak dapat dipastikan aman untuk dikonsumsi dan tidak memenuhi standar keamanan dan standar mutu pangan.
Ia menjelaskan penelitian yang ada menunjukkan ikan sapu-sapu dari sungai tercemar seperti Ciliwung, dapat mengandung berbagai logam berat seperti arsen (As), kadmium (Cd), timbal (Pb), merkuri (Hg), dan lainnya.
Logam berat itu cenderung terakumulasi dalam tubuh ikan, terutama di jaringan tubuh yang dimakan manusia, meningkatkan risiko keracunan kronis jika dikonsumsi rutin.
Ikan yang hidup di perairan yang tercemar juga berpotensi membawa bakteri patogen atau parasit yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan atau infeksi jika tidak dimasak dengan benar.
"Selain cemaran logam berat dan cemaran biologis, risiko cemaran polutan lain (misalnya residu pestisida, mikroplastik, bahan kimia limbah) juga bisa terserap oleh ikan dari lingkungan tercemar," katanya.
Ledakan sapu-sapu rusak ekosistem
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Triyanto mengungkap lonjakan populasi ikan sapu-sapu yang tak terkendali bisa merusak keseimbangan ekosistem sungai.
"Jika populasinya terus meningkat tanpa kendali, ikan sapu-sapu berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem sungai. Dominasi spesies invasif dapat mengurangi keanekaragaman ikan asli, mengubah rantai makanan, dan menurunkan nilai ekonomi perikanan lokal," kata Triyanto.
Triyanto mengatakan ikan sapu-sapu dikenal sangat adaptif terhadap kondisi lingkungan yang terdegradasi.
Menurutnya, kualitas air yang menurun, tingginya kandungan organik, serta perubahan ekosistem sungai akibat pencemaran dan sedimentasi justru memberi ruang bagi spesies ini untuk berkembang.
"Sifatnya yang mampu bertahan di kondisi ekstrem membuat populasinya cenderung meningkat ketika ikan lokal yang lebih sensitif mengalami penurunan," tuturnya.
Ledakan populasi sapu-sapu di Ciliwung makin mengancam keaneragaman ekosistem sungai Ciliwung yang sudah sangat tercemar. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Di sungai, ikan sapu-sapu berperan sebagai spesies invasif. Mereka bersaing dengan ikan lokal untuk ruang dan sumber daya, serta dapat menekan populasi ikan asli karena sifatnya yang agresif dan dominan di dasar perairan.
Ikan ini memiliki telur yang cukup banyak, bisa mencapai 1.000-5.000 telur. Selain itu, proses perkembangannya sangat dijaga oleh ikan jantan sehingga kelulusan hidup anakannya di alam sangat besar.
"Hal ini sesuai dengan keluhan warga bahwa keberadaannya menggeser ikan lokal yang sebelumnya lebih banyak ditangkap," katanya.
Sementara itu, Arief menyadari tindakannya di Ciliwung masih sangat kecil dampaknya. Menangkap sapu-sapu dengan jala atau mengambil telurnya secara manual tidak akan banyak mengubah keadaan. Ia bahkan menyebutnya hanya tindakan seremoni.
Namun, ia menganggap tindakannya itu sebagai pemantik agar masalah di Ciliwung mendapat perhatian lebih luas.
Ia meyakini persoalan sapu-sapu tidak bisa diselesaikan dengan cara konvensional seperti yang dilakukannya, tetapi membutuhkan riset untuk mencari metode pengendalian yang paling efektif.
"Siapa tahu, namanya pemerintah, kan orang pintar banyak. Ilmuwan-ilmuwan mungkin bisa meneliti bagaimana metode yang paling ampuh buat membasmi atau mungkin misalnya dibikin mandul jantannya, atau enggak dibikin mungkin ada racun yang khusus," ujarnya.
Lebih jauh, Arief juga berharap masyarakat untuk berhenti membuang sampah untuk menyelamatkan ekosistem Ciliwung.
Ia menyadari banyak persoalan Ciliwung yang membutuhkan anggaran besar, seperti pengelolaan limbah rumah tangga dan infrastruktur sanitasi, yang mengharuskan tindakan pemerintah.
"Banyak hal, banyak masalah di Kali Ciliwung yang penyelesaiannya butuh duit. Iya, cuma yang ada satu yang enggak butuh duit, jangan buang sampah. Itu kan enggak pakai duit," katanya.
(yoa/wis)
















































