Cerita dan Makna di Balik Kostum Panggung Comeback BTS

3 hours ago 4

CNN Indonesia

Rabu, 25 Mar 2026 18:30 WIB

Kostum panggung konser Comeback BTS di Gwanghwamun Square menjadi salah satu elemen penting yang paling menonjol. Apa cerita di baliknya? Kostum panggung konser Comeback BTS di Gwanghwamun Square menjadi salah satu elemen penting yang paling menonjol. (Handout / BIGHIT MUSIC and NETFLIX / AFP)

Jakarta, CNN Indonesia --

Comeback BTS di Gwanghwamun Square tak hanya menjadi momen musikal, tetapi juga panggung pernyataan kuat tentang identitas budaya Korea di mata dunia.

Digelar di jantung ibu kota Seoul dengan latar Istana Gyeongbokgung, penampilan ini menghadirkan perpaduan visual dan narasi yang penuh makna. Album terbaru mereka bertajuk Arirang terinspirasi dari lagu rakyat Korea berusia lebih dari satu abad menjadi simbol kuat keterkaitan antara musik modern dan akar tradisi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, bukan hanya musik yang mencuri perhatian. Kostum panggung bertajuk "Lyrical Armor" yang dirancang oleh brand Korea Songzio menjadi salah satu elemen paling menonjol dalam pertunjukan tersebut.

Direktur kreatif Songzio, Jay Songzio, menjelaskan bahwa desain tersebut terinspirasi dari perpaduan antara baju zirah era Dinasti Joseon dan busana tradisional Hanbok.

Hasilnya adalah tampilan yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga fleksibel untuk mendukung koreografi. Kain yang mengalir lembut dipadukan dengan struktur menyerupai armor menciptakan kesan 'kekuatan yang anggun'.

"Awalnya saya mencoba membayangkan kembali baju zirah tradisional. Tetapi setelah menumpuk berbagai material, baju zirah itu menjadi terlalu kaku. Karena ada banyak gerakan selama pertunjukan, saya menggabungkan fleksibilitas hanbok untuk menyeimbangkan kekuatan dengan kebebasan," ujar Songzio, seperti dilansir Korea Times.

Lebih dari sekadar estetika, kostum ini juga mengangkat konsep emosional khas Korea, yaitu 'han' perasaan kolektif yang mencerminkan kesedihan, perjuangan, dan ketahanan akibat sejarah panjang yang penuh gejolak.

Songzio menyebut BTS sebagai representasi 'pahlawan generasi baru' yang membawa budaya Korea menuju masa depan.

Setiap anggota pun diberi peran simbolik dalam narasi tersebut:

- RM sebagai "hero"
- Jin sebagai "artist"
- Suga sebagai "architect"
- J-Hope sebagai "sorikkun" (penyanyi tradisional)
- Jimin sebagai "poet"
- V sebagai "doryeong" (pria bangsawan)
- Jungkook sebagai "vanguard"

[Gambas:Video CNN]

Pendekatan ini memperkuat kesan bahwa penampilan BTS bukan sekadar konser, melainkan pertunjukan konseptual yang terstruktur.

Proyek ini tidak hanya melibatkan tujuh anggota BTS, tetapi juga sekitar 80 performer lain, termasuk penari tradisional dan musisi.

Kostum untuk para penampil pendukung juga dirancang selaras, menggabungkan elemen hanbok dengan teknik desain modern seperti layering dan potongan asimetris.

Beberapa kostum bahkan terdiri dari hingga lima lapisan, memungkinkan perubahan visual secara dinamis tanpa harus berganti pakaian di tengah pertunjukan.

Menariknya, para anggota BTS juga terlibat langsung dalam proses kreatif, termasuk menentukan detail kecil seperti warna hingga aksesori.

Misalnya, Jungkook meminta tambahan efek lukisan kasar pada kemejanya yang terinspirasi dari seni lanskap Korea. Sementara itu, Jimin menambahkan ornamen menyerupai perhiasan untuk memperkuat karakter visualnya.

"Partisipasi mereka sangat besar, bahkan sampai detail terkecil," kata Jay.

Penampilan ini disaksikan jutaan penggemar di seluruh dunia, menjadikannya salah satu momen musik paling dinanti tahun ini.

Panggung di Gwanghwamun menjadi simbol bagaimana budaya Korea dari musik, fesyen, hingga sejarah ditampilkan secara utuh di level global.

Setelah ini, BTS dijadwalkan melanjutkan tur dunia besar yang mencakup puluhan kota. Songzio pun mengungkap tengah menyiapkan konsep baru, termasuk kemungkinan reinterpretasi elemen bendera Korea dalam kostum tur mendatang.

Comeback ini menunjukkan bahwa BTS tidak hanya hadir sebagai grup musik global, tetapi juga sebagai representasi budaya.

Melalui perpaduan musik, visual, dan narasi sejarah, mereka menunjukkan bahwa modernitas dan tradisi tidak harus bertentangan, melainkan bisa berjalan berdampingan, bahkan saling menguatkan.

(nga/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |