Jakarta, CNN Indonesia --
Berbagai peristiwa terbaru di tingkat global telah mendorong para investor untuk meninjau kembali asumsi-asumsi lama dalam penyusunan portofolio investasi mereka. Kesenjangan yang semakin melebar antara ekspektasi politik dan hasil kebijakan dalam 18 bulan terakhir turut memicu perubahan lanskap makroekonomi saat ini.
Kebijakan Amerika Serikat saat ini dinilai berkontribusi pada peningkatan risiko geopolitik, kenaikan belanja pertahanan, serta defisit struktural yang lebih lebar. Situasi tersebut mengarah pada terbentuknya rezim makro baru yang jauh lebih rentan terhadap risiko inflasi.
Ketegangan geopolitik berkepanjangan di Timur Tengah juga membawa konsekuensi makro yang signifikan terhadap pergerakan instrumen investasi global. Konflik ini memicu risiko harga energi bertahan lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama akibat penurunan persediaan minyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dinamika Inflasi Global dan Tantangan Portofolio Tradisional
Chief Investment Office (CIO) DBS, Hou Wey Fook, menyoroti pentingnya kewaspadaan investor dalam menghadapi dinamika inflasi global yang terus berkembang pesat saat ini.
"Konflik di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran inflasi saat perekonomian global secara umum masih tangguh," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7).
Di samping sektor energi, lonjakan investasi pada teknologi Kecerdasan Buatan (AI) turut muncul sebagai faktor pendorong inflasi jangka pendek. Pembangunan infrastruktur AI yang masif meningkatkan permintaan terhadap perangkat lunak, komponen elektronik, hingga konsumsi daya listrik.
Faktor lain yang mendorong inflasi global adalah keluarnya Tiongkok secara bertahap dari fase deflasi ekonomi. Tekanan harga di negara tersebut mulai stabil berkat dukungan kebijakan anti-involusi serta kenaikan biaya input komoditas.
Perkembangan ini mendorong bank-bank sentral utama seperti Federal Reserve, ECB, dan BOE mengadopsi pandangan yang lebih hawkish atau netral. Strategi penetapan harga berbasis pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Kondisi inflasi yang tinggi menyebabkan kerangka kerja tradisional portofolio 60/40 semakin tertantang dan kehilangan keandalan perlindungannya. Investor kini membutuhkan diversifikasi investasi alternatif untuk memitigasi risiko penurunan nilai aset di pasar keuangan.
Emas dinilai tetap efektif memainkan peran sebagai instrumen aman di tengah ketidakpastian makroekonomi global yang terjadi. Selain emas, eksposur selektif terhadap komoditas dan saham domestik Tiongkok juga menawarkan manfaat diversifikasi karena korelasinya yang rendah dengan ekuitas global.
DBS CIO Insights 3Q26. (Foto: Arsip DBS)
Strategi DBS di Kuartal III 2026: Alokasi Aset dan Rekomendasi Taktis
Perekonomian global saat ini sedang memasuki siklus super belanja modal baru yang didorong oleh ekspansi ganda AI dan energi. Para penyedia layanan awan berskala besar terus meningkatkan pengeluaran agresif karena permintaan komputasi melampaui pasokan yang tersedia.
Di sektor energi, kekhawatiran akan ketahanan energi memicu pemulihan belanja modal di seluruh rantai nilai setelah bertahun-tahun mengalami investasi rendah. DBS merekomendasikan penerima manfaat tipe penyedia sarana penunjang seperti ekosistem semikonduktor, jaringan perangkat keras, dan layanan peralatan minyak.
Secara umum, DBS Group Research menyarankan posisi netral terhadap instrumen saham dan obligasi pada triwulan ketiga tahun 2026 ini. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan tetap resilien ditopang konsumsi yang kuat, ekspor energi, serta siklus investasi.
Dari perspektif penilaian nilai aset, instrumen obligasi saat ini terlihat lebih menarik dibandingkan dengan instrumen saham. Namun, saham AS tetap mendominasi tren alokasi regional karena kinerja laba yang kuat di sektor terkait teknologi AI.
Pasar saham belakangan ini digerakkan oleh momentum kuat dan didominasi oleh saham-saham yang berkaitan langsung dengan ekosistem AI. DBS menyarankan pendekatan barbell dengan memadukan eksposur AI dan memilih bisnis dengan intensitas energi yang rendah.
Untuk instrumen obligasi, krisis Timur Tengah dan belanja modal AI diprediksi akan menjaga tekanan inflasi tetap tinggi ke depan. Aliran dana ke obligasi korporasi berpotensi memadati ruang obligasi pemerintah dan mendorong imbal hasil bergerak naik.
"Untuk kredit korporasi, kami tetap memilih durasi 5-7 tahun untuk portofolio obligasi," kata Hou Wey Fook menjelaskan langkah taktisnya.
Pada pasar berkembang, selektivitas menjadi kunci dengan berfokus pada negara yang memiliki kemandirian energi serta kredibilitas kebijakan yang kuat. Disiplin dari bawah ke atas sangat penting dengan memilih penerbit obligasi berkualitas yang memiliki fundamental kokoh.
Sementara itu, instrumen emas diperkirakan akan segera kembali menegaskan perannya yang kuat sebagai aset aman bagi investor. DBS tetap mempertahankan sikap konstruktif terhadap komoditas emas karena adanya faktor pendorong struktural seperti tren dedolarisasi global.
Di area pasar swasta, peningkatan ketidakpastian makroekonomi memperkuat kebutuhan akan selektivitas pemilihan manajer investasi dan aset berkualitas tinggi. Investor disarankan meningkatkan paparan ke investasi bersama pada perusahaan tahap lanjut yang memiliki pendapatan tangguh.
Bank DBS memberikan insights terkini, mendalam, dan relevan kepada nasabah agar mereka dapat menentukan arah investasi dengan bijak di tengah volatilitas pasar. Melalui analisis pasar yang komprehensif dan panduan dari para ahli, Bank DBS membantu nasabah membuat keputusan investasi yang terinformasi untuk mencapai tujuan keuangan mereka.
(rir)
Add
as a preferred source on Google

















































