Jakarta, CNN Indonesia --
Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.065 per dolar AS pada perdagangan Jumat (10/7) sore. Mata uang Garuda menguat 63 poin atau 0,35 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mata uang Asia yang cenderung menguat terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,18 persen, ringgit Malaysia naik 0,27 persen, dolar Singapura terapresiasi 0,12 persen, serta yen Jepang menguat 0,42 persen.
Kemudian ada juga peso Filipina yang menguat 0,15 persen dan won Korea Selatan naik 0,12 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong terpantau melemah 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kelompok mata uang negara maju, pergerakannya juga beragam. Euro menguat 0,06 persen, poundsterling Inggris naik 0,07 persen, dolar Australia terapresiasi 0,07 persen, dan franc Swiss menguat 0,17 persen. Sementara itu, dolar Kanada stabil tak alami perubahan.
Pengamat mata uang yang merupakan Direktur PT Traze Andalan Futures Ibahim Assuaibi mengungkap penguatan rupiah akibat kombinasi faktor eksternal dan internal.
Dari eksternal, perang yang terjadi kembali antara Amerika Serikat dan Iran serta harga minyak dunia yang naik menjadi penyebab rupiah menguat.
Ia mengatakan lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi, yang pada gilirannya dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed).
"Pasar terlihat terus meningkatkan taruhan mereka pada kenaikan suku bunga Fed pada tahun 2026 pekan ini, menurut CME Fedwatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 63 persen pada pertemuan di bulan September," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis.
Dari faktor internal, Ibrahim menyebut pernyataan International Monetary Fund yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada 2026 disambut positif oleh pasar.
(dhz/sfr)
Add
as a preferred source on Google

















































