Jakarta, CNN Indonesia --
Fenomena El Nino tahun ini diprediksi bakal menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Sejumlah wilayah Indonesia berpotensi terkena dampak paling parah.
Profesor riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan bahwa sejumlah pakar iklimmemprediksi bahwa pemanasan suhu akibat El Nino bisa mencapai lebih dari 2 derajat. Fenomena El Nino tahun ini diprediksi bakal lebih parah dari 2023.
"Kalau kita bicara dampak untuk kasus El Nino 2023 yang suhu maksimum intensitasnya hanya 1,6 (derajat Celsius), sekarang kedudukannya, posisinya El Nino saat ini dalam pantauan satelit itu sudah 1,74 (derajat Celsius)," kata Erma dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV, Minggu (26/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu sudah melampaui ambang batas El Nino 2023, dan ini belum stop di sini, ini masih merangkak naik begitu dan diprediksi Agustus akan mencapai threshold atau ambang batas di atas 2 (derajat Celsius). Jika El Nino mencapai 2 atau lebih dari 2, maka itu disebut dengan super," lanjut dia.
Menurut Erma, kategori El Nino super baru terjadi dua kali sepanjang sejarah, yakni pada tahun 1997 dan 2015. Namun, fenomena El Nino tahun ini diprediksi bakal lebih kuat dari dua peristiwa sebelumnya.
Bahkan, jika dibanding peristiwa tahun 2023 lalu, dampak El Nino kali ini diperkirakan bakal lebih parah. Pasalnya, intensitas El Nino tahun ini sudah melampaui tahun 2023, dengan kondisi masih bisa lebih panas lagi ke depannya.
"Sudah harus dipahami bahwa El Nino saat ini yang 2026 dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan El Nino 2023, karena intensitasnya saja sekarang sudah lebih tinggi daripada intensitas maksimum El Nino 2023," ujar dia.
Wilayah mana yang paling terdampak?
Erma menjelaskan, fenomena El Nino memicu keragaman dampak, alias tidak semua wilayah mengalami dampak yang sama. Menurut dia, wilayah Indonesia yang berada di utara ekuator, seperti Aceh, Sumatra bagian barat, hingga Kalimantan bagian utara diperkirakan masih akan diguyur hujan saat fenomena ini terjadi.
Sementara itu, wilayah-wilayah yang berada di selatan ekuator bakal mengalami kekeringan parah. Bahkan, 70 persen wilayah Indonesia diperkirakan bakal terkena dampak dari El Nino, yakni cuaca yang lebih panas dan udara lebih kering.
"Kalau kita bicara mostly ya, mostly itu berarti secara statistik lebih dari 70 persen di wilayah Indonesia ini akan mengalami kondisi yang tadi cuaca menjadi lebih panas, hotter, dan dryer yaitu udara menjadi lebih kering," jelas dia.
Lantas, daerah mana saja yang paling terdampak? Erma memprediksi daerah-daerah ini yang bakal paling terdampak fenomena El Nino:
- Pulau Jawa
- Bali
- Nusa Tenggara Barat
- Nusa Tenggara Timur
"Nah, ini yang sedikit membedakan kalau kita bicara di selatan Jawa dibagi menjadi dua hotspot, yaitu wilayah yang paling keringnya yaitu di bagian tenggara tadi sudah lebih lama mereka onset keringnya dan sekarang diikuti oleh Pulau Jawa ini dan juga Sumatera bagian selatan ya dalam hal ini Lampung dan sekitarnya," tuturnya.
Sementara itu, wilayah seperti Kalimantan juga bisa terdampak El Nino, dengan potensi kebakaran hutan dan lahan mengancam. Menurutnya, Agustus nanti suhu diperkirakan bakal lebih panas dari sebelumnya imbas El Nino.
Sebelumnya, hasil pemantauan BMKG juga menunjukkan El Niño telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen, sehingga berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau.
"Fenomena El Niño merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa ElNiño dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda,"kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya, Senin (29/6).
El Niño disebut akan berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air. Selain itu, El Niño juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi polutan, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas.
Di sektor pangan dan pertanian, BMKG mengingatkan adanya risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air.
Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan langkah antisipatif perlu dilakukan sejak dini melalui penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi yang lebih efisien, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian.
(dmi)
Add
as a preferred source on Google

















































