CNN Indonesia
Minggu, 04 Jan 2026 09:36 WIB
Helikopter yang mengangkut Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuju pusat tahanan di Brooklyn, New York. (REUTERS/Jeenah Moon)
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Venezuela Nicolas Maduro langsung dijebloskan ke pusat tahanan Metropolitan Detention Center di Brooklyn, New York, Amerika Serikat, Sabtu (3/1) malam waktu setempat.
Maduro dan istri, Cilia Flores, ditangkap pasukan elite AS Delta Force di kediamannya hanya beberapa saat setelah militer AS membombardir Kota Caracas pada Sabtu dini hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka diseret oleh pasukan Delta Force dari kamar tidurnya dan segera dibawa menuju pesawat.
Militer AS membombardir Kota Caracas dan menangkap Maduro beserta istri atas perintah langsung Presiden AS Donald Trump.
Trump sempat mengunggah foto Maduro saat diangkut dalam pesawat dengan mata dan telinga ditutup dan tangan diborgol.
Pesawat yang mengangkut Maduro dan istri tiba di Pangkalan Udara Nasional Stewart New York pada Sabtu sore
Ia kemudian dibawa ke pusat tahanan Brooklyn menggunakan menggunakan kendaraan khusus setelah tiba di Manhattan dari pangkalan udara nasional Stewart menggunakan helikopter.
Maduro ditahan di penjara tersebut, tempat para pelaku kriminal berat seperti Sean 'Diddy' Combs dan Sam Bankman-Fried ditahan.
Maduro akan menghadapi dakwaan di pengadilan federal AS di Manhattan atas tuduhan narkoterorisme.
Sejumlah pihak menyangsikan dalih Trump yang menangkap Maduro karena alasan narkoterorisme dan penjualan senjata.
Penguasaan atas cadangan minyak di Venezuela, terbesar di dunia, disebut-sebut jadi motif utama Trump.
Anggota Kongres Demokrat dari Massachusetts, Jake Auchincloss, mengatakan minyak menjadi alasan operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela serta penangkapan Presiden Nicolás Maduro, dan tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba.
"Ini adalah pertumpahan darah demi minyak. Ini tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba. Narkoba tersebut sebagian besar dikirim ke Eropa, dan kokain bukanlah narkoba yang membunuh orang Amerika. Itu adalah fentanyl yang berasal dari China," katanya kepada CNN pada Sabtu (3/1).
(bac)


















































