Jakarta, CNN Indonesia --
Miliarder Elon Musk memberikan kesaksian mengejutkan dalam persidangan melawan OpenAI pada Selasa (28/4). Menurut Musk, gugatannya terhadap OpenAI bukan sekadar masalah korporasi, tapi juga upaya menyelamatkan umat manusia.
Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Utara California, Musk mengaku khawatir dengan perkembangan AI yang menurutnya "bisa saja membunuh kita semua."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sangat khawatir tentang [perkembangan] AI," kata Musk saat bersaksi di ruang sidang, Selasa (28/4), melansir CNN.
Ia memperingatkan bahwa perkembangan AI yang tidak terkendali dapat membawa konsekuensi mengerikan bagi manusia. Sebagai salah satu pendiri OpenAI, Musk menegaskan bahwa lembaga tersebut awalnya didirikan sebagai organisasi nirlaba untuk memastikan sistem tersebut tetap aman dan terbuka.
"Kita tidak ingin berakhir seperti 'Terminator'," kata pemilik perusahaan xAI itu, mengacu pada film fiksi ilmiah di mana robot AI memusnahkan peradaban manusia.
Gugatan Rp2.250 triliun
Gugatan ini muncul setelah Musk menuduh CEO OpenAI Sam Altman dan presiden perusahaan Greg Brockman menipu dan mengkhianati misi pendirian organisasi tersebut. Ketiganya mendirikan OpenAI pada 2015, namun pisah jalan pada 2018 setelah ada perselisihan internal.
Dalam gugatannya, Musk menuntut ganti rugi sebesar US$130 miliar atau setara Rp2.250 triliun dari OpenAI. Ia juga menuntut perusahaan tersebut kembali menjadi organisasi nirlaba serta menyingkirkan Altman dan Brockman dari dewan direksinya.
Musk mengeklaim sumbangannya yang mencapai sedikitnya US$44 juta atau sekitar Rp762 miliar pada tahun-tahun awal OpenAI disalahgunakan demi memperkaya para pemimpinnya dan investor seperti Microsoft.
OpenAI lewat pengacara utamanya, Bill Savitt, membantah klaim tersebut. Ia menilai gugatan ini didasari oleh rasa iri karena Musk gagal menguasai OpenAI sepenuhnya sebelum akhirnya hengkang pada 2018.
"Kami berada di sini karena Tuan Musk ternyata sangat salah mengenai OpenAI. Kami berada di sini sekarang karena Tuan Musk kini bersaing dengan OpenAI," kata Bill.
"Karena dia adalah pesaing, Tuan Musk akan melakukan apa pun yang dia bisa untuk menyerang OpenAI," lanjut dia.
Gugatan ini juga mengancam rencana OpenAI untuk melantai di bursa saham (IPO) yang dijadwalkan paling cepat tahun ini.
Perseteruan Musk dan Altman juga dianggap bisa menjadi penentu arah masa depan teknologi dunia. Jika IPO sukses, OpenAI diprediksi bakal mendominasi industri kecerdasan buatan berkat suntikan dana segar.
Sebaliknya, kemenangan Musk di pengadilan bisa menjegal langkah sang rival sekaligus membuka jalan bagi perusahaan miliknya, xAI, untuk menyalip di peta persaingan global.
(dmi/dmi)
Add
as a preferred source on Google

















































