Jakarta, CNN Indonesia --
Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) menilai industri komponen otomotif Indonesia memiliki ketangguhan yang kuat sekaligus makin memperkuat posisinya sebagai bagian dari rantai pasok global.
Ketangguhan itu tercermin dari ekspor yang meningkat, kapasitas produksi yang terjaga, serta dukungan berkelanjutan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang 2025, menurut catatan GIAMM, industri komponen otomotif nasional mengekspor produk ke lebih dari 100 negara dengan nilai melampaui US$7 miliar atau sekitar Rp124,4 triliun (kurs Rp17.777). Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN menjadi pasar utama.
Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmat Basuki menyatakan industri komponen nasional kini memasuki fase ekspansi dan mampu memasok kebutuhan pasar internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Industri komponen otomotif fase lagi bisa ekspor ke mana-mana. jadi sebagai global supply chain," kata Rachmat, dikutip Antara, Senin (29/6).
Daya saing
Menurut Rachmat, keberhasilan menembus rantai pasok global menuntut pelaku usaha terus meningkatkan daya saing di tengah persaingan dengan produsen dari berbagai negara. Produktivitas pun menjadi faktor utama agar industri nasional bisa bertahan.
Ia menyebut pembinaan Kemenperin lewat berbagai program, termasuk implementasi Industri 4.0, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan produktivitas manufaktur. Berbagai pelatihan juga membantu pelaku industri beradaptasi dengan tuntutan proses produksi modern.
Dukungan pemerintah, lanjutnya, terbukti menjaga ketahanan industri saat pandemi COVID-19. Lewat penerapan protokol kesehatan yang ketat, industri komponen tetap beroperasi sehingga kontinuitas pasokan bagi rantai produksi global terjaga.
Pasar domestik
Di sisi lain, stimulus Kemenperin kepada industri kendaraan bermotor turut menjaga permintaan domestik. Rachmat menilai pasar dalam negeri yang kuat menjadi fondasi penting dalam menciptakan skala ekonomi sebelum industri semakin kompetitif di pasar ekspor.
"Sehingga industri roda empat kan naik. Dengan naiknya industri roda empat ini, otomatis supply komponennya akan tetap jalan," katanya.
Berdasarkan data GIAMM, hingga kuartal I 2026 industri otomotif roda empat tumbuh 14 persen secara tahunan (year on year). Kinerja itu menopang industri komponen mempertahankan kapasitas produksinya, didukung pula pasar kendaraan roda dua yang relatif stabil.
Rachmat mengatakan pemerintah terus mendorong transformasi industri komponen menuju kendaraan rendah emisi lewat program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), yang mencakup seluruh lini teknologi dari internal combustion engine (ICE) hingga battery electric vehicle (BEV).
Program itu juga diarahkan memperkuat pendalaman struktur industri lewat peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) secara bertahap hingga 80 persen.
Selain itu, Kemenperin terus memberikan arah kebijakan agar industri komponen nasional kian terintegrasi dalam rantai pasok global.
"Pemerintah selalu nge-trigger kita dengan peraturan-peraturan supaya kita bisa masuk ke arah global supply chain," ujarnya.
(fea)
Add
as a preferred source on Google


















































