Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak di pasar Asia menuju kenaikan bulanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir pada Jumat (30/1).
Penguatan terjadi menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menyusul kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang dapat mengganggu pasokan dari salah satu produsen OPEC terbesar.
Dilansir Reuters, kontrak minyak mentah Brent naik 3,4 persen sebelum melandai 21 sen menjadi US$70,50 per barel pada pukul 01.39 GMT. Harga ditutup pada level tertinggi sejak 31 Juli pada Kamis kemarin. Kontrak April yang lebih aktif turun 37 sen menjadi $69,22.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada, harga minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 39 sen menjadi US$65,03 per barel setelah naik 3,4 persen dan ditutup pada level tertinggi sejak 26 September pada sesi sebelumnya.
Kedua patokan tersebut diperkirakan akan mencatatkan kenaikan bulanan pertama mereka dalam enam bulan, dengan Brent naik lebih dari 16 persen untuk mencatatkan lonjakan bulanan terbesar sejak Januari 2022. WTI juga berada di jalur kenaikan lebih dari 14 persen pada Januari, kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2023.
Pada Rabu kemarin, Presiden AS Donald Trump mendesak Iran untuk duduk di meja perundingan dan membuat kesepakatan tentang senjata nuklir atau menghadapi serangan AS, yang memicu ancaman dari Teheran untuk membalas dengan keras.
"Hal ini telah mengakibatkan premi risiko tambahan yang dimasukkan ke dalam harga (minyak) karena para pedagang memperhitungkan kemungkinan gangguan terhadap ekspor Iran atau aliran Selat Hormuz," ujar Analis Pasar IG Tony Sycamore, dalam sebuah catatan.
Dua orang sumber Reuters mengungkapkan pemerintahan Trump akan menjamu pejabat senior pertahanan dan intelijen dari Israel dan Arab Saudi untuk pembicaraan terpisah tentang Iran minggu ini di Washington. Pejabat AS mengatakan Trump sedang meninjau pilihannya tetapi belum memutuskan apakah akan menyerang Iran.
"Mengingat inflasi yang tinggi dan pemilihan paruh waktu tahun ini, kami tidak mengantisipasi gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan," ujar analis JPMorgan yang dipimpin oleh Natasha Kaneva dalam sebuah catatan.
JPMorgan menilai jika aksi militer terjadi, serangan tidak akan menghindari infrastruktur produksi dan ekspor minyak Iran.
Analis JPMorgan juga menyorot gangguan di Kazakhstan, Rusia, dan Venezuela yang memengaruhi pasokan gabungan sebesar 1,5 juta barel per hari pada Januari. Selain itu, gelombang Arktik di AS diperkirakan mengurangi produksi minyak mentah dan kondensat sebesar 340 ribu barel per hari bulan ini.
Sementara itu, cuaca buruk memukul ekspor minyak Rusia sementara Venezuela terpaksa mengurangi produksi setelah pasukan AS menggulingkan Presiden Nicolas Maduro dari negara Amerika Selatan itu awal bulan ini.
Kamis kemarin. pemerintah sementara Venezuela menyetujui reformasi besar-besaran terhadap undang-undang minyak utamanya. Pemerintahan Trump juga secara luas melonggarkan sanksi terhadap industri minyak Venezuela yang dapat meningkatkan produksi minyak dan gas Venezuela serta mendorong investasi.
(sfr)

















































