Hipotermia Bisa Sebabkan Sensasi Panas Palsu, Ini Penjelasannya

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Senin, 19 Jan 2026 13:59 WIB

Hipotermia bukan sekadar kedinginan. Kondisi darurat ini bisa memicu sensasi panas palsu hingga berujung fatal jika tak ditangani cepat. Ilustrasi. Hipotermia bisa memicu rasa panas palsu. (iStockphoto/Yurii Yarema)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus pendaki gunung yang ditemukan meninggal dunia setelah hampir dua pekan pencarian kembali menyoroti bahaya hipotermia.

Kondisi ini kerap dianggap sekadar kedinginan biasa. Padahal, dalam dunia medis, hipotermia merupakan kondisi darurat yang dapat berujung fatal jika tidak segera ditangani.

Melansir Mayo Clinic, hipotermia adalah kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Dalam keadaan ini, tubuh kehilangan panas lebih cepat dibandingkan kemampuannya menghasilkan panas, sehingga organ-organ vital tidak dapat bekerja secara normal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebab umum hipotermia meliputi paparan cuaca dingin atau terendam dalam air dingin. Hipotermia juga bisa terjadi pada suhu yang tidak terlalu dingin jika tubuh basah, kelelahan, atau kekurangan energi.

Saat suhu tubuh menurun, sistem saraf, jantung, dan otak mulai terganggu. Jika tidak ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gangguan irama jantung, kehilangan kesadaran, hingga kematian.

Mengutip Cleveland Clinic, hipotermia tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui beberapa tahap. Berikut paparannya:

1. Hipotermia ringan

Hipotermia ringan terjadi antara 35 hingga 32 derajat Celsius, ditandai dengan menggigil hebat, gigi gemeretak, kelelahan, mengantuk, detak jantung dan pernapasan yang cepat, sering buang air kecil, warna kulit pucat, kesulitan berbicara, gerakan melambat, serta kebingungan ringan.

2. Hipotermia sedang

Hipotermia sedang terjadi antara 32 hingga 28 derajat Celsius ditandai dengan menggigil yang mulai berkurang, bicara menjadi cadel, kesadaran menurun, warna kulit kebiruan, hingga munculnya halusinasi.

3. Hipotermia berat

Kondisi di bawah 28 derajat Celsius bisa disebut sebagai hipotermia berat. Kondisi ini membuat tubuh berhenti menggigil, otot menjadi kaku, tekanan darah turun, kesadaran menghilang, hingga jantung berisiko berhenti berdetak.

Lantas, mengapa orang hipotermia justru merasa kepanasan?

Salah satu fenomena yang kerap membingungkan adalah mengapa orang dengan hipotermia ekstrem justru merasa kepanasan hingga membuka pakaian. Fenomena ini dikenal sebagai paradoxical undressing atau pelepasan pakaian paradoks.

Melansir Biology Insights, perilaku ini biasanya terjadi ketika suhu inti tubuh telah turun drastis ke tingkat berbahaya, umumnya pada tahap hipotermia sedang hingga berat.

Pada awalnya, tubuh berusaha mempertahankan panas dengan melakukan vasokonstriksi, yaitu penyempitan pembuluh darah di dekat permukaan kulit. Mekanisme ini bertujuan mengurangi aliran darah ke tangan dan kaki agar panas tetap terjaga di sekitar organ vital.

Namun, ketika hipotermia berlanjut, otot-otot yang menjaga penyempitan pembuluh darah mengalami kelelahan dan akhirnya gagal bekerja. Kondisi ini memicu vasodilasi pasif secara mendadak, ketika pembuluh darah di kulit dan ekstremitas kembali melebar.

Akibatnya, darah hangat dari bagian inti tubuh mengalir deras ke permukaan kulit. Aliran mendadak ini menimbulkan sensasi panas yang kuat, seolah-olah tubuh mengalami kepanasan.

Sensasi panas palsu inilah yang membuat penderita salah menafsirkan kondisi tubuhnya. Merasa perlu mendinginkan diri, korban kemudian melepas pakaian. Padahal, tindakan tersebut justru mempercepat hilangnya panas tubuh dan meningkatkan risiko kematian.

Pendaki gunung termasuk kelompok yang berisiko tinggi mengalami hipotermia. Faktor risikonya antara lain cuaca yang cepat berubah, angin kencang, hujan, kelelahan fisik, kurangnya asupan makanan, serta pakaian yang tidak memadai.

Kelelahan dan kekurangan energi membuat tubuh tidak lagi mampu menghasilkan panas yang cukup. Dalam kondisi ini, suhu tubuh dapat turun drastis.

Jika pendaki tersesat, terjebak hujan, atau tidak memiliki perlindungan yang memadai, risiko hipotermia semakin meningkat, terutama pada malam hari.

Hipotermia membutuhkan penanganan cepat. Korban harus segera dipindahkan ke tempat yang kering dan terlindung, pakaian basah diganti, lalu tubuh dihangatkan secara bertahap.

(nga/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |