Jakarta, CNN Indonesia --
Pengamat sepak bola nasional Supriyono Prima menilai identitas permainan Timnas Indonesia era John Herdman belum benar-benar kuat jelang tampil di FIFA ASEAN Cup 2026.
Herdman sudah menukangi Garuda sekitar sembilan bulan terakhir. Namun Supriyono menilai, gaya main tim Garuda masih inkonsisten dari periode FIFA Series, FIFA Matchday, hingga Piala AFF 2026.
"Belum kuat ya, saya lihat identitasnya masih belum kuat ya. Kalau dari FIFA Matchday kemudian ke AFF kan masih inkonsistensi," kata Supriyono saat dihubungi CNN Indonesia, Selasa (15/9) siang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika buntu, mau masuk di area tengah itu kreativitasnya seperti apa. Ketika Dony [Tri Pamungkas] tidak memiliki banyak ruang, opsi berikutnya seperti apa?" ujarnya, merujuk pada ketergantungan skema serangan pada penetrasi Dony Tri Pamungkas dari sisi kiri.
Ia menyoroti belum jelasnya pembagian tugas antarpemain di lapangan, khususnya saat Timnas Indonesia menghadapi lawan yang bermain bertahan penuh atau low block.
Supriyono menyoroti satu pemain untuk memecah kebuntuan ini. Ia menuturkan apabila Miliano Jonathans pulih dari cedera, bisa menambah variasi serangan.
Jebolan PSSI Primavera itu menyamakan gaya main Miliano dengan legenda Belanda, Arjen Robben.
"Dia [Miliano] punya bola, cutting inside ke dalam dengan kaki kiri. Dia punya kecepatan, ada eksplosifnya juga," ucap Supriyono.
Mencoba kilas balik kegagalan Indonesia di Piala AFF 2026, menurut Supriyono tidak semestinya dibebankan pada absennya tujuh pemain diaspora. Pasalnya, saat kalah 1-0 dari Bulgaria di ajang FIFA Series, Tim Merah Putih justru sempat menunjukkan dominasi permainan.
"Sepak bola itu sistem. Mau siapa pun yang main, kalau sistemnya sudah benar, sebenarnya aman. Jangan sampai ketergantungan ke pemain tertentu jadi alasan kegagalan," ungkapnya.
Timnas Indonesia yang tergabung di Grup A bersama Singapura, Malaysia, dan Bangladesh, akan memulai laga perdana FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Singapura pada Jumat (25/9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
(afr/afr/jun)


















































