Jakarta, CNN Indonesia --
Inggris menolak permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan udara militernya untuk kemungkinan serangan ke Iran, karena khawatir melanggar hukum internasional.
AS disebut tengah membahas rencana penggunaan pangkalan Angkatan Udara Kerajaan (Royal Air Force/RAF) Fairford di Inggris, yang menjadi markas armada pembom berat AS di Eropa.
Trump dikabarkan telah membahas rencana ini dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Selasa (18/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun para pejabat Inggris mengaku khawatir memberi izin AS untuk memakai pangkalan RAF dalam operasi militer karena bisa menyalahi hukum internasional.
"Jika Iran memilih untuk tidak membuat kesepakatan, mungkin AS perlu menggunakan (pangkalan militer) Diego Garcia dan pangkalan udara di Fairford untuk mencegah potensi serangan dari rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya," tulis Trump di Truth Social pada Rabu, dikutip Fox News.
"Serangan itu mungkin menargetkan Inggris dan negara sahabat lain. Kami akan selalu siap dan mampu membela Inggris, tetapi mereka harus tetap kuat menghadapi Wokeism dan masalah lain yang ada," imbuhnya.
Pangkalan militer Diego Garcia di Samudra Hindia merupakan pangkalan militer gabungan Inggris dan AS sejak tahun 1970-an.
Trump selama beberapa waktu terakhir terus menekan Teheran agar mencapai kesepakatan dengan AS terkait program nuklirnya. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Fox News Digital bahwa Trump selalu mengutamakan diplomasi.
"Insting pertama Presiden Trump selalu diplomasi, dan ia menegaskan rezim Iran harus membuat kesepakatan," katanya.
"Tentu saja, Presiden memiliki semua opsi, dan ia sudah membuktikannya lewat Operasi Midnight Hammer dan Operasi Absolute Resolve," tambah dia.
Sementara itu, Senator AS Lindsey Graham mengatakan penggunaan pangkalan militer Inggris untuk menyerang Iran "penting dan mengejutkan jika tidak dilakukan."
"Intinya, sponsor terorisme terbesar dunia kini lemah karena rakyat Iran bangkit berjuta-juta melawan penindasan, sementara AS dan Israel telah menghancurkan infrastruktur militer rezim itu," tulis Graham di X.
"Bagi teman-teman di Inggris, diam dalam masalah ini menempatkan kalian di sisi sejarah yang salah, dan ini menunjukkan bagaimana aliansi kita di Eropa semakin melemah."
Pada Kamis, Trump mengultimatum Iran memiliki waktu maksimal 15 hari untuk membuat kesepakatan nuklir, atau hal buruk akan terjadi.
AS dan Inggris berselisih soal penggunaan pangkalan udara Inggris, yang menurut kesepakatan lama hanya boleh dipakai untuk operasi militer terhadap negara ketiga dengan persetujuan pemerintah Inggris.
Rabu lalu, Trump menarik dukungan terhadap rencana Starmer menyerahkan Kepulauan Chagos ke Mauritius, padahal kesepakatan itu memungkinkan Inggris tetap mengontrol Diego Garcia dan pangkalan udaranya yang strategis.
"Hubungan kami dengan Inggris kuat dan telah berlangsung bertahun-tahun, tetapi Perdana Menteri Starmer kehilangan kontrol atas pulau penting ini karena klaim entitas yang sebelumnya tidak diketahui. Kami menilai klaim itu fiktif," tulis Trump.
"Perdana Menteri Starmer seharusnya tidak kehilangan kontrol atas Diego Garcia melalui sewa 100 tahun yang tidak jelas. Tanah ini tidak boleh diambil dari Inggris, dan jika terjadi, itu akan menjadi noda bagi sekutu besar kami."
AS menggunakan Diego Garcia untuk operasi pengeboman di Timur Tengah dan Asia.
(rnp/dna)


















































