Jakarta, CNN Indonesia --
BYD tetap berpikiran positif bisa memenuhi permintaan mobil listrik domestik di Indonesia pada 2026, meski insentif bebas bea masuk impor CBU sudah berakhir pada 31 Desember 2025.
Menurut Liu Xueliang, General Manager of the Asia-Pacific Auto Sales Division BYD, hal itu karena BYD memiliki formula khusus memproduksi mobil listrik dan pabrik mereka di Subang ditarget berproduksi 2026.
"Pada tahun 2026 Indonesia merupakan salah satu pasar yang paling penting bagi BYD di luar negeri," kata Liu kepada media dari Indonesia di Zhengzhou, Henan, China, pada Kamis (15/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di 2026 kami akan tetap berlanjut memberikan sumber daya kami ke pasar Indonesia dan mendukung perkembangan industri otomotif di Indonesia," lanjutnya.
"Dalam dua tahun terakhir, kami sudah punya posisi dan melihat perkembangan otomotif di Indonesia. Terutama kami lihat bahwa di Indonesia penetrasi NEV sudah melebihi 10 persen. Angka ini, baik di ASEAN maupun dunia, itu angka yang luar biasa."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Liu menjelaskan formula integrasi yang dijalankan BYD sebagai perusahaan teknologi yang terus berinovasi menjadi alasan mereka bisa menekan biaya produksi dan akhirnya menghasilkan produk harga kompetitif.
Ditambah dengan pabrik BYD di Subang yang ditarget mulai berproduksi pada kuartal pertama 2026, hal ini menjadi salah satu cara BYD yakin mereka akan tetap kompetitif ke depan.
"Untuk penjualan di 2026 karena banyak model akan langsung diproduksi di tempat lokal, kami berharap bisa produksi mobil yang sesuai dengan jumlah yang diinginkan masyarakat Indonesia," papar Liu.
"Untuk jumlah detail [yang akan diproduksi] sekarang belum ada. Karena produsen perlu waktu untuk mulai, tapi kami jamin semua pelanggan BYD di tahun ini bisa mendapatkan dream car mereka," lanjutnya.
BYD sendiri mencatatkan pencapaian gemilang di pasar otomotif Indonesia. Meski baru sekitar dua tahun beroperasi di Tanah Air, BYD berhasil merangsek masuk jajaran enam besar merek mobil terlaris di dalam negeri.
Menutup tahun 2025, BYD berhasil memperoleh angka wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer sebanyak 46.711 unit, dengan pangsa pasar 5,8 persen. Sedangkan, retailnya 44.342 unit, dengan market share 5,3 persen.
Hasil itu tidak hanya membuat BYD menjadi merek mobil nomor enam terlaris di dalam negeri, tetapi sebagai produsen paling laris untuk penjualan mobil listrik Indonesia.
Kiprah BYD juga makin tajam bila penjualan merek Denza ikut dihitung. Selama 2025, Denza yang hanya memiliki satu model, yaitu D9, mampu mengumpulkan angka wholesales sebanyak 7.474 unit dan retail 7.324 unit.
"Kami juga berharap penjualan BYD di Indonesia tahun ini bisa ada capaian yang lebih luar biasa dan lebih bagus dalam melayani pelanggan di Indonesia," kata Liu.
Sejauh ini BYD telah merilis berbagai mobil listrik untuk pasar Indonesia seperti M6, Atto 1, Atto 3, Dolphin, e6, Sealion 7, dan Seal.
(end/fea)

















































