Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat (AS) tiba-tiba melakukan serangan militer ke sejumlah titik di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat.
Serangan itu dikonfirmasi Presiden AS Donald Trump seraya menyatakan hal tersebut dilakoni untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Trump mengatakan Maduro dan istrinya sudah berhasil ditangkap dan dibawa keluar dari wilayah Venezuela.
Mengutip dari akun X miliknya, Jaksa Agung AS Pamela Bondi mengatakan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, akan menghadapi sidang tuntutan pidana di tanah AS. Maduro dan Flores, kata Bondi, akan didakwa di pengadilan di New York, AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah dakwaan dan tuntutan dipersiapkan atas Maduro dan istrinya, termasuk tuduhan konspirasi narkoterorisme.
"Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, didakwa di distrik selatan New York. Nicolas Maduro telah didakwa dengan konspirasi Narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senjata api dan perangkat destruktif lainnya, dan konspirasi untuk menggunakan senjata mesin dan perangkat destruktif terhadap Amerika Serikat," ujar Bondi dalam unggahan di akun X-nya, @AGPamBondi, dikutip Sabtu malam WIB.
"Mereka akan segera menghadapi murka sepenuhnya dari hukum Amerika di tanah Amerika di pengadilan Amerika," imbuhnya.
Pada unggahan yang sama, Bondi menyampaikan terima kasih ke Presiden AS Donald Trump yang berani mendorong penuntutan pertanggungjawaban Maduro atas nama rakyat Amerika.
"Dan, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada militer pemberani kita yang telah melakukan misi luar biasa dan sangat sukses untuk menangkap dua terduga pengedar narkoba internasional ini," imbuhnya.
Mengutip dari AFP, dakwaan atau tuduhan terhadap Maduro sebelumnya disampaikan Pemerintah AS pada masa periode pertama kepresidenan Trump pada 2020 silam.
Dan, lewat pernyataan Bondi itu, saat ini Departemen Kehakiman AS juga mengonfirmasi bahwa Flores didakwa dengan tuduhan yang sama. Sebelumnya Flores tak pernah diungkap dakwaannya.
Melansir dari CNN, administrasi Trump selama bertahun-tahun mengatakan Maduro adalah seorang kriminal dan berupaya untuk menuntutnya melalui sistem hukum AS.
Pada 2020, saat masa periode jabatan pertama Trump sebagai Presiden AS, Maduro didakwa di Distrik Selatan New York atas tuduhan 'narkoterorisme'. Kala itu Maduro dituduh terlibat konspirasi untuk mengimpor kokain ke AS dan tuduhan terkait lainnya.
Pemerintahan Trump sempat menawarkan hadiah US$15 juta dolar untuk penangkapan pemimpin Venezuela tersebut.
Hadiah untuk penangkapan Maduro kemudian ditingkatkan menjadi 50 juta pada Agustus 2025 setelah Trump menjabat untuk masa jabatan kedua sebagai Presiden AS. Pada saat itu, AS juga menetapkan Cartel de los Soles sebagai organisasi teroris asing.
Pemerintah AS di bawah Trump menuding Maduro adalah pemimpin kelompok yang digambarkan sebagai organisasi kriminal tersebut.
"Tuduhan ini, klaim ini, bahwa rezim Maduro adalah organisasi teroris narkoba bukanlah berdasarkan pembicaraan atau spekulasi politik. Ini berdasarkan bukti yang diberikan kepada dewan juri di Distrik Selatan New York yang telah mengeluarkan dakwaan," kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio beberapa waktu lalu.
Venezuela lapor ke DK PBB
Terkait sejumlah serangan yang terjadi pada Sabtu ini, Venezuela telah meminta Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-bangsa menggelar pertemuan.
"Tidak ada serangan pengecut yang akan berhasil melawan kekuatan rakyat [Venezuela] ini, yang akan keluar sebagai pemenang," Menteri Luar Negeri Venezuela Yván Gil Pinto via Telegram seperti dikutip dari CNN. Dia juga membagikan tangkapan layar atau arsip digital surat yang dikirim ke PBB.
DK PBB adalah badan utama PBB yang bertugas menjaga perdamaian dan keamanan internasional dengan cara menginvestigasi konflik, merekomendasikan penyelesaian damai, menjatuhkan sanksi, bahkan mengizinkan penggunaan kekuatan militer. DK PBB terdiri atas 15 anggota, di mana lima anggota tetap memiliki hak veto dan ada 10 anggota tidak tetap.
Lima anggota tetap DK PBB yang memiliki hak veto itu adalah Inggris, Prancis, China, Rusia, dan Amerika Serikat (AS).
Hak veto adalah kekuasaan istimewa bagi lima anggota tetap DK PBB untuk memblokir resolusi yang dihasilkan meskipun mayoritas mendukung. Cukup satu suara 'tidak' dari salah satu anggota tetap DK PBB untuk menggagalkan resolusi yang dihasilkan.
Terpisah, Trump lewat akun di media sosial miliknya, Truth Social, mengumumkan militer AS telah berhasil menangkap Maduro bersama istri, Cilia Flores, dan dibawa keluar dari wilayah Venezuela.
Pengumuman penangkapan ini menandai puncak dramatis dari tekanan berbulan-bulan yang dilancarkan pemerintahan Trump untuk menggulingkan Maduro dari kursi pemerintahan di Venezuela.
"Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan sedang menerbangkannya keluar dari Venezuela," tulis Trump dalam unggahannya seperti dikutip dari CNN.
Sementara itu, saat berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Venezuela soal 'penculikan' Maduro oleh militer AS itu. Mengutip dari Reuters, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez pada Sabtu pagi di stasiun televisi negara itu mengaku tak tahu keberadaan Maduro dan Flores.
(kid)














































