CNN Indonesia
Senin, 29 Jun 2026 23:30 WIB
Ilustrasi. Rasa bosan ternyata bukan sesuatu yang buruk. (iStockphoto/m-imagephotography)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sering merasa bosan saat melakukan hal yang itu-itu saja? Baik saat bekerja, belajar, atau sekadar scroll media sosial, rasa jenuh kerap muncul dan membuat tidak nyaman.
Banyak orang menganggap bosan sebagai sesuatu yang negatif, perasaan yang harus segera dihilangkan. Padahal, dari sudut pandang ilmiah, rasa bosan tidak selalu buruk.
Dalam batas tertentu, rasa bosan justru memiliki peran penting bagi kesehatan mental. Perasaan ini bisa menjadi sinyal dari otak bahwa kita membutuhkan jeda, perubahan, atau bahkan tantangan baru dalam hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences, rasa bosan dijelaskan bukan sekadar perasaan tidak nyaman, melainkan sinyal psikologis yang membantu kita mengevaluasi kondisi saat ini. Saat rasa bosan muncul, hal itu bisa menjadi tanda bahwa aktivitas yang dilakukan kurang bermakna, kurang menantang, atau tidak lagi sesuai dengan kebutuhan mental.
Kebosanan juga dipandang sebagai pengalaman penting yang berkaitan dengan kesehatan mental, fungsi kognitif, hingga performa kerja. Hal serupa dijelaskan dalam penelitian tentang boredom feedback, yang melihat bosan sebagai emosi regulatif.
Artinya, perasaan ini memberi umpan balik bahwa perhatian kita sudah tidak efektif, lalu mendorong kita mencari aktivitas yang lebih sesuai.
Berperan dalam regulasi emosi
Secara emosional, rasa bosan juga memiliki fungsi yang tidak kalah penting. Cara seseorang memandang bosan dapat memengaruhi kesehatan mentalnya. Orang yang mampu menerima dan memahami rasa bosan cenderung memiliki kesejahteraan mental yang lebih baik.
Dengan kata lain, bukan rasa bosannya yang menjadi masalah, melainkan bagaimana kita meresponsnya.
Dari sisi otak, rasa bosan juga memicu perubahan. Saat bosan, perhatian biasanya beralih dari aktivitas eksternal ke proses internal, seperti berpikir, merenung, atau mencari alternatif lain.
Hal ini berkaitan dengan aktivitas jaringan otak seperti default mode network, yang aktif ketika kita tidak sedang fokus pada tugas tertentu.
Strategi dalam menghadapi rasa bosan juga memengaruhi bagaimana otak mengembangkan ide atau mencari solusi baru.
Tak heran jika bosan kerap dikaitkan dengan kreativitas. Penelitian dari Frontiers in Psychology menyebut bahwa rasa bosan dapat mendorong rasa ingin tahu dan pencarian informasi. Saat merasa bosan, otak seolah terdorong untuk mencari sesuatu yang lebih menarik atau bermakna.
Meski demikian, hubungan antara bosan dan kreativitas tidak selalu terjadi secara otomatis. Efeknya sangat bergantung pada konteks dan bagaimana seseorang merespons perasaan tersebut.
Alih-alih selalu dihindari, rasa bosan sebenarnya perlu didengarkan. Dalam berbagai situasi, perasaan ini menjadi sinyal bahwa kita membutuhkan perubahan, baik berupa istirahat, tantangan baru, maupun aktivitas yang lebih sesuai dengan minat dan tujuan.
Bosan bukanlah musuh. Ia bisa menjadi petunjuk penting agar kita tidak terus terjebak dalam rutinitas yang kehilangan makna. Bahkan, dari rasa bosan itulah kerap muncul ide, arah baru, hingga keputusan besar dalam hidup.
(anm/tis)
Add
as a preferred source on Google


















































