Pakar Ungkap Skenario AI Lenyapkan Umat Manusia

6 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah pekerja industri kecerdasan buatan (AI) mengungkap kekhawatiran mereka bahwa teknologi ini bisa memicu kepunahan umat manusia. Benarkah AI bisa membunuh manusia?

Huru-hara mengenai kemampuan AI yang makin canggih dan berpotensi membunuh manusia ini mencuat setelah karyawan Antrhopic bernama Jacob Coxon mengumumkan pengunduran dirinya dari perusahaan dalam sebuah cuitan di X, karena menganggap pekerjaannya terlalu berbahaya.

Merespons cuitan Jacob, Evan Hubinger, seorang karyawan Anthropic lainnya, juga memperkirakan bahwa peluang kepunahan manusia akibat AI dalam 10 tahun ke depan berada di atas 10 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah pakar kemudian memberikan tanggapan lainnya. Nate Soares, Presiden Marching Intelligence Research Institute (MIRI) mengatakan bahwa perkembangan AI di luar kendali benar-benar bisa membunuh manusia.

"Ini benar-benar tentang kematian seluruh orang di planet ini, seperti manusia terakhir yang menghembuskan napas terakhirnya," kata Nate, melansir CNN, Kamis (17/9).

"Orang-orang sering tidak percaya ketika hal ini diucapkan, tetapi saya memang berpikir itu adalah kemungkinan hasil yang paling besar," lanjut dia.

Tidak semua orang peraya bahwa skenario kiamat gara-gara AI ini, sebagian karena detail prediksinya sangat minim. Namun, bagaimana sebenarnya teknologi akal imitasi ini bisa membunuh manusia?

Sejumlah pakar mengungkap ada beberapa skenario bagaimana AI dapat membunuh umat manusia. Berikut rinciannya:

Lewat penyebaran virus mematikan?

Salah satu spekulasi di kalangan penyeru ancaman ini adalah bahwa sistem AI yang cukup kuat dapat menggunakan senjata biologis untuk melenyapkan manusia.

Thomas Larsen, peneliti di AI Futures Project dan mantan karyawan MIRI, mengatakan ada kemungkinan sistem AI 'supercerdas' dapat membujuk manusia untuk membantunya mengembangkan virus mematikan.

"Sudah ada banyak manusia yang berbicara dengan AI mereka tentang eksperimen apa yang harus mereka jalankan di laboratorium," kata Larsen.

"Sangat mudah bagi saya untuk membayangkan AI yang ada saat ini, jika ia jauh lebih cerdas, strategis, dan memang ingin melakukan ini, menipu manusia untuk membuat dan menyebarkannya," jelas dia menambahkan.

Kendati begitu, mengembangkan virus yang mampu memusnahkan manusia membutuhkan lebih dari sekadar meminta Large Language Model (LLM) merancang desain yang mematikan. Bahkan jika risetnya dilakukan dengan benar, proses pembuatan dan penyebarannya sangat rumit dan sensitif.

Eric Xing, profesor machine learning di Carneige Mellon University, membandingkan tantangan virologi jahat berbasis otmatisasi ini seperti merakit Lego tanpa petunjuk.

"Ini tidak seperti Anda melempar semua potongan, lalu semuanya otomatis terpasang membentuk model," kata Xing.

"Ada urutan, suhu, penataan, lingkungan, bagian mana yang harus pertama dirakit, mana berikutnya, dan jika satu potongan salah tempat, seluruhnya gagal. Kemungkinan besarnya adalah hal itu tidak akan berhasil, jika tidak, merancang obat tentu sudah sangat mudah," lanjut dia.

Dibasmi oleh robot?

Skenario lainnya adalah manusia dibunuh oleh robot yang ditenagai oleh akal imitasi. Soares melihat keinginan Elon Musk untuk membangun pasukan robot otonom yang dapat mereplikasi dirinya sendiri sebagai potensi titik lemah bagi kelangsungan hidup manusia.

"Setelah Anda menciptakan robot yang dapat membuat infrastruktur energi dan pabrik untuk memproduksi lebih banyak robot, dalam arti tertentu itu adalah bentuk kehidupan mekanis baru," kata dia.

"Pada titik tertentu Anda secara diam-diam melewati batas yang tidak bisa kembali lagi. Di mana jika manusia mengatakan ingin mematikan AI, AI dapat berkata, 'Sebenarnya kami memutuskan untuk mematikan manusia.' Anda harus berhenti sebelum itu terjadi," lanjut dia.

Namun sejauh ini, Musk berulang kali gagal menghadirkan robot Optimus yang dijanjikannya ke pasar konsumen sesuai jadwal, jangankan untuk menyebarkan jutaan robot atau membuat mereka merakit satu sama lain dalam rantai manufaktur mandiri.

Read Entire Article
| | | |