CNN Indonesia
Jumat, 09 Jan 2026 14:00 WIB
Ilustrasi pelayaran ke Taman Nasional Komodo. (ANTARA/Gecio Viana)
Labuan Bajo, CNN Indonesia --
Pelayaran menuju kawasan Taman Nasional Komodo kembali dibuka pada Jumat (9/1), setelah hampir dua pekan ditutup sepenuhnya oleh otoritas Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo, akibat kondisi cuaca tak menentu.
Pengumuman dibukanya kembali pelayaran ke Taman Nasional Komodo disampaikan Kepala KSOP Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, Jumat (8/1), yang juga menginformasikan tentang pembukaan kembali pembuatan surat persetujuan berlayar (SPB) di hari yang sama.
Keputusan untuk membuka kembali pelayaran kapal menuju kawasan Taman Nasional Komodo itu berdasarkan analisis kondisi cuaca yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) di Labuan Bajo.
"Berdasarkan evaluasi BMKG, kondisi cuaca dan laut di rute pelayaran wisata dinyatakan aman (pada 9 Januari 2026). Oleh karena itu, pelayaran wisata di Labuan Bajo akan beroperasi kembali, dengan semua pihak diwajibkan mematuhi peraturan serta standar keselamatan yang tercantum dalam pengumuman resmi KSOP," kata Risdiyanto kepada CNNIndonesia.com di Labuan Bajo pada sore hari Kamis (7/1).
Namun demikian, pelayaran pada malam hari tetap dilarang di 10 titik area perairan yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya, sebagaimana tertera dalam pemberitahuan yang diterbitkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun 10 lokasi perairan yang berpotensi berbahaya serta petunjuk teknis antisipasi kedaruratan menurut KSOP Labuan Bajo tersebut terdiri dari: Perairan Pulau Kelor, Perairan Batu Tiga, Selat Molo, Selat Padar, Perairan Loh Kima, Perairan Pulau Luwu, Keranga, Pulau Mawang, Pulau Siaba, Pulau Tatawa Kecil dan Siaba Kecil.
Lokasi yang disebutkan di atas menurut Stefanus berpotensi diterpa angin kencang, pusaran air, dan gelombang tinggi yang dapat membahayakan keselamatan pelayaran kapal.
Selain itu, lanjut dia pembukaan pelayaran tidak hanya bertujuan untuk membantu memulihkan aktivitas usaha para pelaku pariwisata yang terganggu akibat penutupan oleh pemerintah selama lebih dari sepekan.
Stefanus menambahkan, langkah ini juga diharapkan dapat mendukung upaya pencarian korban dari insiden tenggelamnya kapal KLM Putri Sakinah yang masih berlangsung.
"Kita menduga beberapa korban mungkin telah mengapung di permukaan air. Dengan keterlibatan masyarakat dan wisatawan yang beraktivitas di laut, diharapkan cakupan pencarian dapat diperluas dan korban dapat segera ditemukan," imbuh dia.
(lou/wiw)


















































