Pemimpin China Ini Paling Ogah Lawatan ke Luar Negeri, Hanya 2 Kali

2 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak pemimpin negara di dunia yang melakukan kunjungan ke luar negeri.

Namun, pendiri sekaligus pemimpin China Mao Zedong (1893-1976) hanya dua kali mengadakan perjalanan ke luar negeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal Mao dikenal sebagai pemimpin besar China sekaligus pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) dari tahun 1943 hingga kematiannya.

Sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dan kontroversial di abad ke-20, ia mengubah Tiongkok dari negara agraris yang terpecah belah menjadi negara komunis yang kuat, sekaligus memicu tragedi kemanusiaan yang sangat besar

Namun selama menjabat sebagai pemimpin China, selama 27 tahun, dari berdirinya Republik Rakyat China pada tahun 1949 hingga ia meninggal dunia pada tahun 1976 hanya dua kali mengadakan perjalanan ke luar negeri yaitu pada 1949 dan 1957. Keduanya hanya mengunjungi Uni Sovyet atau Rusia sekarang.

Kunjungan pertamanya dilakukan untuk bertemu dengan pemimpin Soviet Joseph Stalin dan menandatangani perjanjian persahabatan, sementara kunjungan keduanya adalah untuk menghadiri pertemuan puncak partai-partai komunis dunia.

Selain kunjungan tersebut, Mao tidak pernah melakukan perjalanan dinas resmi ke negara lain mana pun.

Pada kunjungan pertama 16 Desember 1949, Mao Zedong memimpin delegasi pertamanya ke Uni Soviet. Saat itu hubungan Sino-Soviet sedang dalam fase 'bulan madu'.

Mao Zedong dan Joseph Stalin mengadakan pembicaraan, kedua belah pihak menandatangani "Perjanjian Persahabatan, Aliansi, dan Bantuan Timbal Balik Sino-Soviet."

Pertemuan itu sangat sukses meraup manfaat besar bagi China mengingat bantuan yang diterima dari Uni Soviet dalam upayanya membangun ekonomi, seperti dikutip dari laman Institute of Chinese Studies.

Pada kunjungan kedua, November 1957, Mao Zedong diundang untuk untuk menonton tiga film rahasia. Setelah menontonnya, ia sangat tergerak. Segera setelah kembali ke Tiongkok, ia memulai tugas rahasia utama.

Meski demikian, hubungan kedua pemimpin negara besar ini sebenarnya tidak terlalu akrab karena rebutan pengaruh.

Menurut laman Alpha History, hubungan antara komunis China dan Rusia berawal sejak tahun 1919 dan pembentukan Komunis Internasional, atau Komintern.

Lembaga yang berbasis di Moskow ini dibentuk untuk mempromosikan, mendukung, dan memberikan bimbingan kepada para revolusioner sosialis di seluruh dunia. Komintern memainkan peran penting dalam pembentukan dan pengarahan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

"Sejalan dengan teori Marxis, sebagian besar anggota Komintern percaya bahwa Tiongkok belum siap untuk revolusi sosialis. Selama tahun 1920-an, organisasi, ideologi, dan metodologi PKT mengikuti instruksi dan nasihat dari Moskow,"

"Ketika Mao Zedong menguasai PKT pada pertengahan tahun 1930-an, ia menolak pandangan Komintern, dengan alasan bahwa Tiongkok siap untuk revolusi sosialis yang digerakkan oleh kaum petani," demikian pernyataan dari laman Alpha History.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |