Pentagon Was-was Gara-gara Trump Obral Rudal Tomahawk di Perang Iran

6 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk dalam empat minggu perang melawan Iran. Tingginya intensitas penggunaan senjata presisi ini mulai memicu kekhawatiran di internal Pentagon terkait ketersediaan stok senjata mereka.

Mengutip laporan Washington Post, Jumat (27/3), laju penggunaan rudal yang sangat cepat ini memicu diskusi internal mengenai cara mempercepat pengadaan stok tambahan.

Namun, laporan penggunaan rudal ini belum bisa diverifikasi secara independen oleh Reuters.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa kekuatan militer AS tetap berada dalam kondisi prima.

"Militer AS memiliki lebih dari cukup amunisi dan stok senjata untuk mencapai target 'Operasi Epic Fury' yang dicanangkan Presiden Trump, bahkan lebih dari itu," tegas Leavitt dalam pernyataannya kepada Reuters, melansir AsiaOne.

Ia menambahkan bahwa Presiden Trump tetap fokus memperkuat angkatan bersenjata dan terus mendesak kontraktor pertahanan untuk mempercepat produksi senjata buatan Amerika yang ia klaim sebagai "yang terbaik di dunia".

Ada perubahan signifikan dalam struktur pemerintahan di bawah kepemimpinan Trump. Pentagon, yang kini diperintahkan untuk berganti nama menjadi Departemen Perang (Department of War), menyatakan bahwa mereka memiliki semua kebutuhan logistik militer yang diperlukan.

"Departemen Perang memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melaksanakan misi apa pun, di waktu dan tempat yang dipilih Presiden, dalam lini masa kapan pun," ujar juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell.

Meskipun pejabat publik memberikan pernyataan yang menenangkan, para ahli menilai penggunaan hampir 900 rudal Tomahawk dalam waktu singkat merupakan beban logistik yang sangat besar.

Fokus utama kini beralih pada seberapa cepat industri pertahanan AS mampu menambal celah stok yang mulai menipis akibat eskalasi di Timur Tengah.

(wiw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |