Rekonstruksi Gaya Aristokrat Modern Jonathan Anderson untuk Dior Men

3 hours ago 2

LAPORAN DARI PARIS

Fandi Stuerz | CNN Indonesia

Sabtu, 24 Jan 2026 17:00 WIB

Dalam konteks industri fesyen yang kini lesu dan banyak jenama cenderung bermain aman, pendekatan Jonathan Anderson untuk Dior Men kali ini patut dicatat. Dalam konteks industri fesyen yang kini lesu dan banyak jenama cenderung bermain aman, pendekatan Jonathan Anderson untuk Dior Men kali ini patut dicatat. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Paris, CNN Indonesia --

Show Dior Men untuk musim dingin 2026-2027 di Musée Rodin, Paris, menandai fase penting dalam kepemimpinan Jonathan Anderson di rumah mode Prancis tersebut.

Peragaan busana pada 21 Januari 2026 ini jadi yang kedua dari Anderson untuk Dior Men. Seperti koleksi perdananya pada Juli 2025, Anderson menampilkan konsep yang kompleks, yakni sebuah studi karakter tentang aristokrasi baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karakter aristokrasi baru itu tidak lagi ditentukan oleh kekayaan atau strata sosial, melainkan oleh eksentrisitas, sikap, dan cara berpakaian. Jonathan Anderson menyebutnya sebagai eksplorasi tentang "dressing versus dressing up", pencarian ekuilibrium tarik-menarik dan berubah-ubah.

Konsep sentralnya dirumuskan lewat istilah "the Dior aristo-youth", generasi aristokrat imajiner yang digambarkan sebagai flâneur Paris modern. Bayangkan saja sebagai generasi muda yang gelisah, tapi memiliki pengetahuan akan sejarah, sekaligus sembrono dan intuitif.

Dalam peragaan kali ini, para model tampil dengan wig sintetis kuning menyala, sequin camisole ala 1920-an, dan jaket parka longgar yang dipadukan dengan tailoring rapi.

Kali ini koleksi Jonathan Anderson terlihat jauh dari normal dan menciptakan estetika yang ia sebut sebagai "punk-iness meets Poiret". Ia merujuk pada Paul Poiret, couturier awal abad ke-20 yang dikenal menolak korset dan menciptakan karya couture yang terinspirasi dari Asia dengan permainan siluet yang tidak lazim pada masa itu.

Secara teknis, koleksi ini menunjukkan kecermatan Jonathan Anderson dalam memanipulasi proporsi.

Koleksi Dior Men Winter 2026-2027 oleh Jonathan AndersonKoleksi Dior Men Winter 2026-2027 oleh Jonathan Anderson. Secara teknis, koleksi ini menunjukkan kecermatan Jonathan Anderson dalam memanipulasi proporsi. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Bar jacket ikonik Dior dipotong lebih pendek, bahkan memperlihatkan sedikit perut. Sementara itu mantel punya lekuk pinggul terangkat seakan memendekkan torso dan memanjangkan kaki.

Tailoring ramping dan presisi dikawinkan dengan elemen-elemen yang terasa salah tempat, seperti epaulet, hiasan bahu yang aslinya merupakan bagian dari seragam militer. Epaulet sebenarnya bukan elemen fungsional, melainkan secara visual memberi sinyal seperti pangkat, upacara, atau otoritas.

Tentu saja Anderson menempatkan aksen itu dengan sengaja. Dengan itu, ia menegaskan minatnya pada "wrongness" atau ketidaksempurnaan yang memicu ketegangan visual.

Pilihan material dari Anderson memperkuat narasi ini. Donegal tweeds, kain wol kasar asal Irlandia yang identik dengan pakaian utilitarian, dipertemukan dengan beludru berkilau dan jacquard bercahaya.

Passementerie --hiasan tekstil dekoratif seperti rumbai dan tali sulam yang lazim dalam busana formal Eropa-- digunakan di banyak tempat dalam koleksi kali ini, membangun tekstur yang kaya dan nyaris teatrikal.

Kemudian ada lavallière shirts --kemeja dengan pita panjang di leher yang mengingatkan pada busana aristokrat abad ke-19-- dipasangkan dengan long johns alih-alih celana, yang tampak mengaburkan batas maskulin dan feminin.

Koleksi Dior Men Winter 2026-2027 oleh Jonathan AndersonKoleksi Dior Men Winter 2026-2027 oleh Jonathan Anderson. Ia memadukan elemen fungsional tapi tetap mewah, the pragmatic and the dramatic, melalui bomber yang berlapis mirip baju zirah dan jaket berpunggung menyerupai balon, serta mantel kepompong berkerah bulu. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Yang menarik, outerwear menjadi medan paling menarik bagi Anderson. Ia memadukan elemen fungsional tapi tetap mewah, the pragmatic and the dramatic, melalui bomber yang berlapis mirip baju zirah dan jaket berpunggung menyerupai balon, serta mantel kepompong berkerah bulu.

Pendekatan ini menunjukkan ambisi Jonathan Anderson untuk menjembatani dunia streetwear, couture, dan eksperimen gender-fluid dalam satu bahasa visual.

Namun justru di sinilah para kritikus melihat bahwa referensi yang ia tampilkan terlalu banyak. Mulai dari couturier yang sangat berpengaruh seperti Paul Poiret, kokohnya pakaian era 1940-an dan 1960-an, film Withnail and I, musisi Mk.gee, hingga anime. Semua itu membuat koleksi ini memiliki banyak faset, kadang nyaris berlebihan.

Beberapa tampilan, seperti tailcoat rajut atau celana kargo dengan detail rumit, bisa dibaca sebagai gimik ketimbang sebuah pernyataan estetika yang matang. Tidak semua eksperimen mencapai keseimbangan antara provokasi dan visi desain yang jelas dan tunggal.

Koleksi Dior Men Winter 2026-2027 oleh Jonathan AndersonKoleksi Dior Men Winter 2026-2027 oleh Jonathan Anderson. Beberapa tampilan, seperti tailcoat rajut atau celana kargo dengan detail rumit, bisa dibaca sebagai gimik ketimbang sebuah pernyataan estetika yang matang. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Meski demikian, dalam konteks industri fesyen yang kini lesu dan banyak jenama cenderung bermain aman, pendekatan Jonathan Anderson patut dicatat. Ia menawarkan sudut pandang yang berbeda dan konsisten dengan eksperimen seni terapan ini.

Identitasnya tidak bertumpu pada satu poin, melainkan pada kualitas, kerajinan, dan ide yang tajam, meski bermacam-macam dan seolah tumpang-tindih. Upayanya menjembatani atelier pria dan perempuan juga mencerminkan cara konsumen berpakaian hari ini yang makin menolak kategori biner yang kaku.

Dior Men versi Jonathan Anderson mungkin tidak selalu nyaman atau mudah dicerna. Namun justru melalui ketegangan, keganjilan, dan keberanian itulah koleksi ini menjadi relevan.

Itulah salah satu faktor utama menjadi desainer untuk rumah mode sebesar Dior, yang memiliki tugas tidak hanya membuat pakaian siap pakai dan wearable, melainkan eksperimen tentang bagaimana warisan mode dapat dinegosiasikan ulang di tangan generasi baru.

Lagi pula, setelan jas dan kemeja atau kaos dan celana denim akan selalu bisa dijumpai di butik. Akan tetapi, ini adalah runway, yang tentu saja memiliki diksi berbeda.

(end)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |