LAPORAN DARI PARIS
Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Minggu, 01 Feb 2026 11:56 WIB
Show koleksi 'Valour' dari Robert Wun di Paris Couture Week, Rabu (28/1). (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di Lido, tepat di tengah Champs-Élysées, turis dan warga lokal berpapasan tanpa henti. Jalan ini adalah ruang di mana berbagai budaya saling bertabrakan.
Pada sebuah sore yang cerah setelah hujan deras mengguyur kota cahaya, kerumunan mode berkumpul. Sebagian mengenakan busana yang bahkan tidak terpikirkan keberadaannya oleh para pejalan kaki.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di siniah terjadi yang ganjil sekaligus khas Paris: ada yang berhenti untuk mengagumi, bersorak, dan ber-selfie. Ada pula yang mencibir, atau sekadar berlalu tanpa menoleh.
Di tengah benturan ini, peragaan couture Robert Wun musim semi/panas 2026 berlangsung. Couture, untuk sesaat, keluar dari dunia tertutupnya dan berhadapan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Deretan tamu menjadi penanda kuat dunia yang dibangun Robert Wun. Frederik Robertson hadir sebagai salah satu klien pria couture asal Swedia-sebuah kelangkaan di dunia haute couture yang masih sangat didominasi perempuan.
Heart Evangelista, aktris sekaligus istri seorang politisi Filipina, kembali menegaskan posisinya sebagai patron couture Asia yang paling konsisten dan berpengaruh saat ini.
Turut terlihat Lisa Rina, Rebecca Bloom, Jane, seorang patron couture dari Los Angeles, serta tamu-tamu lain yang sebagian mengenakan karya Robert Wun, seolah menjadi perpanjangan dari narasi yang akan ditampilkan di runway.
Koleksi yang bertajuk 'Valour' ini dibangun sebagai perjalanan emosional dalam tiga babak: Library, Luxury, dan Valour.
Library hadir dalam palet hitam-putih, menyerupai ilustrasi buku dan arsip ide mentah. Siluetnya terkontrol dan grafis.
Luxury kemudian berhadapan dengan tekstur yang kompleks: beludru, kristal Swarovski, dan harmoni warna yang kaya menciptakan kesan vitrin indah sekaligus provokatif. Bordir kristal diperlakukan seperti cat di atas kanvas, memunculkan efek layaknya lukisan Gustav Klimt dan kemewahan simboliknya.
Babak terakhir, Valour, menjadi pernyataan inti. Senjata dan elemen protektif hadir sebagai metafora keberanian kreator, dengan sedikit agresi yang emosional.
Koleksi ini terlihat sebagai evolusi dari koleksi sebelumnya, 'Fear', yang lebih menekankan ketegangan dan perlindungan.
Show Robert Wun di Paris Couture Week, Rabu (28/1). (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Kolaborasi dengan Johnnie Walker Blue Label memperkuat cerita tentang keberanian. Sementara kacamata Paloceras, yang terinspirasi penutup mata patung klasik, membentuk siluet seperti kaca laut transparan, hasil teknologi modern dan draping kain.
Berbeda dengan struktur peragaan busana pada umumnya, di mana setiap look muncul satu per satu lalu ditutup dengan finale walk yang lebih cepat dan singkat, peragaan Robert Wun hanya terjadi satu kali. Tidak ada pengulangan. Tidak ada final.
Setiap tampilan berjalan dengan bobot penuh. Seolah menegaskan bahwa pengalaman ini tidak dimaksudkan untuk diringkas atau dirayakan ulang, melainkan untuk diserap sepenuhnya dalam satu tarikan napas.
Di tengah dunia yang semakin fungsional dan pragmatis, couture mungkin memiliki sedikit tempat di dunia nyata. Jauh berbeda ketika di tahun 1950an pascaperang dunia kedua, bahkan rumah-rumah mode paris membuat pakaian sehari-hari seperti celana berkebun.
Namun kini, bukan berarti ia kehilangan relevansi. Couture menjadi pengingat bahwa imajinasi masih memiliki tempat.
Bagi industri mode, couture adalah laboratorium ide. Dan bagi kita semua, ia adalah bukti bahwa di balik rutinitas yang banal, manusia tetap membutuhkan mimpi, serta keberanian untuk terus memeliharanya.
(asr/asr)

















































