Jakarta, CNN Indonesia --
Lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1447 H/2006 diperkirakan kembali tak bersamaan seperti awal Ramadan tahun ini.
Ormas Muhammadiyah sebelumnya sudah memutuskan bawah Idul Fitri 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026.
Sementara pemerintah baru akan memastikan 1 Syawal pada sidang isbat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin memperkirakan saat sidang isbat di tanggal 19 Maret 2026 kemungkinan hilal belum bisa dilihat.
Pasalnya di hari itu hilal atau bulan baru belum memenuhi syarat kreteria MABIMS.
"Pada saat maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, maka 1 Syawal 1447 = 21 Maret 2026," kata Thomas dalam tulisan blognya, pada Juni 2025.
Ia mengatakan berdasarkan kriteria Turki, posisi bulan di hari itu telah memenuhi kriteria dan ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru atau berarti 1 Syawal jatuh pada 20 Maret 2026.
"Maka menurut kriteria Turki, 1 Syawal 1447 = 20 Maret 2026," tambahnya.
Ketika dikonfirmasi, Thomas menyebut akan terjadi perbedaan waktu Idul Fitri antara pemerintah dan Muhammadiyah. Menurutnya, perbedaan bahkan akan semakin sering terjadi.
"Ya. Dan akan semakin sering terjadi perbedaan," kata Thomas kepada CNNIndonesia.com, Jumat (20/2).
Thomas menjelaskan bahwa penyebab utama perbedaan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah di Indonesia bukan karena perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi karena perbedaan kriteria.
Muhammadiyah menggunakan kriteria Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) atau Kriteria Hijriyah Global ala Turki.
"Penggunaan KHGT yang secara resmi akan dimulai pada 1447/2025 berpotensi makin sering terjadi perbedaan awal Ramadhan, Syawal, atau Idul Fitri," kata Thomas.
Merujuk pada analisis dengan menggunakan aplikasi Hisab Astronomis yang dikembangkan oleh Dewan Hisab dan Rukyat PP Persatuan Islam (Persis), Idul Fitri berpotensi berbeda hingga 2029 atau 1450 Hijriah mendatang. Namun, pada periode tersebut, awal Ramadan diperkirakan akan sama.
Potensi ini kemungkinan terjadi selama tidak ada perubahan kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan Muhammadiyah.
Penentuan Ramadan
Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 sejak Oktober 2025.
Keputusan itu ditetapkan berdasarkan hisab hakiki Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah yang berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebagaimana tercantum dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
Berdasarkan perhitungan astronomis, ijtimak jelang Ramadan diperkirakan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12:01:09 UTC. Saat matahari terbenam pada hari itu, kriteria visibilitas hilal belum terpenuhi di wilayah mana pun.
Namun, perhitungan menunjukkan setelah tengah malam UTC, ada wilayah di daratan Amerika yang telah memenuhi syarat munculn
(lmy/sur)

















































