CNN Indonesia
Sabtu, 03 Jan 2026 11:29 WIB
Ilustrasi. Arab Saudi bakal menggelar pertemuan di Riyadh untuk memediasi konflik Yaman selatan. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia --
Arab Saudi bakal menggelar pertemuan di Riyadh untuk memediasi konflik Yaman selatan.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Saudi pada Sabtu (3/1) menyatakan, Negeri Minyak bersedia mengadakan konferensi komprehensif untuk mempertemukan semua faksi selatan Yaman, sesuai permintaan Presiden Yaman Rashad Al Alimi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Arab Saudi menyambut baik permintaan Presiden Yaman dan menyerukan kepada semua faksi selatan untuk berpartisipasi aktif dalam pertemuan tersebut demi mencari solusi adil bagi permasalahan di Yaman selatan sesuai keinginan rakyat," demikian pernyataan Kemlu Saudi dalam unggahan di X, Sabtu (3/1).
Yaman selatan memanas setelah pasukan Gubernur Hadramout Salem Al Khanbashi bekingan Saudi menyerang wilayah tersebut pada Jumat (2/1).
Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang mengontrol wilayah selatan Yaman, melaporkan tujuh orang tewas dan lebih dari 20 orang terluka akibat serangan tersebut.
Al Khanbashi mengatakan, serangan itu dilancarkan secara 'damai dan sistematis' dengan tujuan merebut kembali situs-situs militer dari STC.
Al Khanbashi telah memimpin komando pasukan setelah pemerintah Yaman memberinya wewenang militer guna memulihkan keamanan dan ketertiban di selatan Yaman.
Konflik di Yaman selatan meletus setelah Saudi melancarkan serangan udara terhadap muatan kapal yang dibawa Uni Emirat Arab (UEA) ke pelabuhan Mukalla pada Selasa (30/12). Saudi menuduh muatan berisi senjata itu ditujukan UEA untuk STC.
Tak lama setelah serangan, Yaman pun mengumumkan keadaan darurat dan membatalkan pakta keamanan dengan UEA. Yaman dan Saudi kemudian kompak mendesak pasukan UEA angkat kaki dari Sanaa dalam 24 jam.
Pasukan Emirat ada di Yaman sejak 2015 sebagai bagian dari koalisi pimpinan Saudi. Koalisi itu hadir untuk merespons perang saudara Yaman yang meletus pada 2014.
Namun, UEA menarik sebagian besar pasukannya dari koalisi pada 2019 dan menyisakan sejumlah kecil personel di wilayah selatan yang dikelola pemerintah Yaman.
Awal bulan ini, pasukan STC menyapu wilayah selatan Yaman dan merebut sebagian besar Provinsi Hadramaut. Otoritas Yaman menuduh UEA mengarahkan STC untuk 'melemahkan dan memberontak terhadap otoritas negara melalui eskalasi militer'.
UEA telah membantah terlibat dalam aksi STC.
(blq/asr)














































