CNN Indonesia
Jumat, 23 Jan 2026 20:45 WIB
Ilustrasi. Waspada, kebiasaan kretek jari bisa membahayakan persendian. (istockphoto/solidcolours)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kebiasaan mengkretekkan jari kerap dianggap sepele dan bahkan memberi rasa lega sesaat. Namun, di balik bunyi 'krek' yang memuaskan itu, ada sejumlah risiko terhadap kesehatan sendi yang tetap perlu diperhatikan, terutama jika dilakukan terlalu sering atau dengan teknik yang keliru.
Menukil Real Simple, bunyi kretek pada jari terjadi akibat pelepasan gas nitrogen dari cairan sinovial di sekitar sendi. Saat sendi ditarik atau ditekan, tekanan di dalam cairan menurun sehingga terbentuk gelembung gas yang kemudian pecah dan menimbulkan suara khas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski proses ini tidak secara langsung menyebabkan radang sendi (arthritis), para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan ini bukan tanpa konsekuensi, khususnya jika dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang.
Salah satu risiko utama berasal dari cara mengkretekkan jari yang salah. Menarik atau menekan jari dengan tenaga berlebihan dapat melukai ligamen, memicu nyeri, hingga menyebabkan pembengkakan.
Dalam beberapa kasus, jari bahkan bisa mengalami dislokasi ringan jika dilakukan secara paksa dan berulang.
Melansir Cleveland Clinic, teknik mengkretekkan jari memegang peranan penting. Jika dilakukan, sebaiknya tidak menggunakan tenaga berlebihan dan tidak memutar jari ke arah yang tidak alami.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya keterkaitan antara kebiasaan mengkretekkan jari dan masalah sendi. Beberapa studi menyebutkan hubungan antara kebiasaan ini dengan pembengkakan pada persendian jari.
Mengutip Harvard Health Publishing, terdapat beberapa laporan medis langka mengenai masalah kesehatan yang berkaitan dengan kebiasaan ini, terutama terkait besarnya kekuatan dan teknik yang digunakan seseorang saat mengkretekkan jari.
Sebuah penelitian pada 1990 melaporkan bahwa dari 74 orang yang secara teratur mengkretekkan jari, ditemukan lebih banyak kasus pembengkakan tangan dibandingkan 226 orang yang tidak memiliki kebiasaan tersebut.
Sementara itu, penelitian pada 2017 menemukan tidak ada korelasi antara kebiasaan membunyikan persendian jari dan kekuatan genggaman. Para ahli juga menyebut belum pernah melihat adanya komplikasi jangka panjang yang signifikan.
Meski hasil penelitian belum sepenuhnya konsisten, para dokter sepakat bahwa rasa sakit setelah mengkretekkan jari merupakan tanda peringatan yang tidak boleh diabaikan.
Nyeri, sensasi tertarik, atau rasa tidak stabil pada sendi bisa menandakan adanya cedera ringan yang jika dibiarkan berpotensi berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Selain itu, perubahan bentuk jari, seperti tampak bengkok atau muncul bengkak yang menetap, juga patut diwaspadai. Kondisi ini bisa menandakan adanya cedera jaringan lunak atau gangguan pada struktur sendi yang memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
(nga/tis)

















































