Stres Bisa Bikin Asam Lambung Naik? Ini Penjelasannya

6 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Pernah merasakan dada seperti terbakar, mual, atau mulut terasa pahit ketika sedang dikejar pekerjaan? Keluhan tersebut kerap dikaitkan dengan pola makan, seperti terlambat makan atau terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas.

Padahal, kondisi psikologis juga dapat memengaruhi sistem pencernaan. Stres yang berlangsung terus-menerus dapat memicu atau memperburuk berbagai keluhan pada saluran cerna, termasuk gejala refluks asam dan gastritis.

Hubungan antara kondisi mental dan pencernaan terjadi karena otak dan organ pencernaan saling berkomunikasi melalui jalur yang dikenal sebagai gut-brain axis atau sumbu otak-usus. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh dapat mengalami perubahan pada sistem saraf dan hormon yang kemudian turut memengaruhi fungsi pencernaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana stres memengaruhi lambung?

Saat stres, tubuh mengaktifkan respons terhadap tekanan yang melibatkan hormon stres dan sistem saraf simpatis. Kondisi ini dapat memengaruhi pergerakan saluran cerna, persepsi terhadap rasa sakit, serta gejala yang berkaitan dengan asam lambung.

Stres juga dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap rasa tidak nyaman di tubuh. Akibatnya, sensasi panas atau nyeri di dada dan perut dapat terasa lebih kuat.

Selain perubahan biologis, stres juga sering membuat pola hidup berubah. Seseorang yang sedang banyak pikiran misalnya, bisa melewatkan waktu makan, makan dalam jumlah berlebihan, atau mengandalkan kopi agar tetap terjaga saat bekerja.

Kebiasaan tersebut kemudian dapat memperburuk keluhan pencernaan pada sebagian orang.

Stres dan gastritis

Melansir UniCamillus, gastritis merupakan peradangan atau iritasi pada lapisan lambung. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi, konsumsi alkohol, penggunaan obat tertentu, hingga faktor lain yang mengiritasi lambung.

Stres dan kecemasan yang berat juga dapat berkontribusi terhadap munculnya keluhan pencernaan. Profesor Giovanni Leonetti, dosen Gastroenterologi di UniCamillus, menjelaskan bahwa stres dan kecemasan dapat memengaruhi mekanisme yang berkaitan dengan produksi cairan pencernaan dan perlindungan lapisan lambung.

"Stress-induced gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung yang disebabkan oleh stres dan kecemasan," ujar Leonetti.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat muncul ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan, perubahan gaya hidup, masa belajar yang intens, maupun persoalan emosional, keluarga, dan kesehatan.

"Ketika stres dan kecemasan menjadi sangat tinggi, produksi cairan pencernaan yang bersifat asam meningkat, sementara lendir dan prostaglandin yang melindungi lapisan lambung menurun," katanya.

Kondisi tersebut umumnya bukan masalah serius, tetapi dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu kualitas hidup.

Bedakan sakit perut, heartburn, dan kembung

Keluhan pada sistem pencernaan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Karena itu, penting mengenali perbedaannya. Sakit perut dapat terasa seperti nyeri menusuk, kram, rasa berat, atau gangguan pencernaan. Penyebabnya pun beragam dan tidak selalu berasal dari lambung.

Sementara itu, heartburn atau sensasi terbakar biasanya terasa di bagian atas perut dan dapat disertai sendawa serta regurgitasi. Regurgitasi terjadi ketika cairan atau makanan dari lambung naik kembali ke kerongkongan, bahkan terkadang sampai ke mulut.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan sensasi terbakar pada tenggorokan dan mulut serta rasa pahit. Adapun kembung ditandai dengan pembengkakan atau rasa penuh di perut yang terkadang disertai nyeri. Rasa penuh setelah makan umumnya dapat menghilang setelah proses pencernaan berlangsung.

Namun, jika kembung disertai nyeri yang menetap atau semakin berat, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Stres kronis bisa memengaruhi saluran cerna

Masalah pencernaan akibat stres tidak hanya berkaitan dengan lambung. Stres kronis juga dapat memengaruhi sistem saraf otonom yang mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk saluran pencernaan.

Leonetti mengatakan paparan stres berkepanjangan dapat meningkatkan sensitivitas sistem saraf simpatis. Kondisi tersebut kemudian dapat memicu berbagai gejala pada lambung dan usus.

Inilah sebabnya seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis dapat merasakan perubahan pada pola buang air besar, sakit perut, kembung, atau keluhan pencernaan lainnya.

Keluhan lambung yang berulang sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai akibat stres. Berbagai penyakit pada saluran pencernaan dapat memiliki gejala yang serupa sehingga penyebabnya perlu diketahui dengan tepat.

Menurut Leonetti, gastritis yang tidak ditangani dapat berkaitan dengan komplikasi seperti refluks gastroesofagus, tukak lambung, perdarahan lambung, hingga gangguan penyerapan zat besi dan vitamin B12 pada kondisi tertentu.

Karena itu, keluhan yang menetap, berulang, atau semakin berat sebaiknya diperiksakan ke dokter.

Cara mencegah gangguan lambung akibat stres

Mengelola stres menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan pencernaan. Selain itu, pola makan dan gaya hidup juga perlu diperhatikan.

Leonetti menyarankan untuk makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering. Makanan juga sebaiknya dikunyah dengan baik agar proses pencernaan lebih mudah.

Aktivitas fisik yang bersifat relaksasi, seperti yoga, juga dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mengelola stres. Dari sisi pola makan, makanan berlemak, gorengan, makanan yang terlalu berbumbu, minuman berkarbonasi, serta konsumsi kopi dan teh secara berlebihan dapat memperburuk keluhan pada sebagian orang.

Pemicu setiap orang bisa berbeda. Karena itu, penting memperhatikan makanan atau minuman apa yang biasanya membuat gejala muncul atau semakin berat.

Selain itu, hindari melewatkan sarapan dan jangan membiarkan perut kosong terlalu lama. Makanlah secara perlahan dan hindari langsung berbaring setelah makan karena kebiasaan tersebut dapat mendorong terjadinya refluks.

Merokok dan konsumsi alkohol juga sebaiknya dihindari karena dapat memperburuk iritasi serta berbagai keluhan pada saluran pencernaan. Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan obat untuk meredakan gejala, seperti antasida atau obat penekan produksi asam lambung. Penggunaan obat sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan anjuran tenaga medis.

(tis/tis)

Read Entire Article
| | | |