Survei: Warga RI, Malaysia, Singapura, Kompak Peduli Krisis Iklim

3 hours ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Indonesia, Malaysia, dan Singapura menyatakan kepedulian yang sangat tinggi terhadap perubahan iklim.

Hal tersebut terungkap dari laporan berjudul "Banks and Coal Financing: Public Perception Survey across Indonesia, Malaysia, and Singapore" yang dirilis pada Selasa (19/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Survei ini dilakukan oleh YouGov terhadap empat ribu responden di tiga negara tersebut, dengan dua ribu di antaranya responden asal Indonesia.

"Kepedulian yang dialami masyarakat di Indonesia, Malaysia, dan Singapura mengenai perubahan iklim ini sangat beralasan mengingat dampaknya telah kita rasakan. Mulai dari gelombang panas yang mematikan hingga banjir, badai, dan tanah longsor yang lebih sering terjadi" kata Bernadette Maheandiran, Direktur Asia Energy Finance dari Market Forces dalam keterangannya, Selasa (19/5).

"Sebagian besar warga setuju bahwa penghentian penambangan dan pembangkit listrik batu bara secara cepat akan melindungi kita dari perubahan iklim yang berbahaya," tambahnya.

Dalam survei tersebut, hampir semua warga Indonesia atau sekitar 96 persen menyatakan cukup hingga sangat peduli terhadap perubahan iklim. Angka tersebut adalah yang tertinggi dibanding Malaysia dengan 85 persen dan Singapura dengan persentase 81 persen.

Sementara itu, sebanyak 65 persen warga Indonesia menyebut mengurangi penggunaan energi batu bara dengan cepat adalah salah satu cara terbaik mengatasi perubahan iklim, juga yang tertinggi dibanding Malaysia (58 persen) dan Singapura (61 persen).

Survei ini juga menunjukkan bagaimana warga di tiga negara setuju perbankan berpengaruh signifikan terhadap perubahan iklim jika terus mendanai tambang dan pembangunan pembangkit listrik batu bara.

Sebanyak 66 persen warga Indonesia berharap bank berkomitmen untuk tidak lagi membiayai proyek batu bara baru, hal itu juga diimplementasikan untuk semua jenis proyek batu bara, termasuk PLTU captive yang dibangun untuk kebutuhan industri, seperti smelter nikel dan aluminium.

"Bank di Indonesia, Malaysia, dan Singapura harus menyadari bahwa membiayai proyek batu bara menimbulkan risiko serius bagi iklim, ekonomi, dan kepercayaan nasabah mereka," tutur Maheandiran.

Lebih lanjut, survei ini juga menunjukkan mayoritas warga Indonesia (61 persen) tidak menganggap nikel masuk dalam kategori "hijau" jika diproduksi menggunakan PLTU batu bara.

Ginanjar Ariyasuta, Juru Kampanye Market Forces di Indonesia menyebut hasil survei ini sebagai pengingat bagi perbankan dan industri soal alokasi dana mereka.

"Ini adalah alarm penting, bukan hanya bagi perbankan, tetapi juga bagi industri mineral kritis di Indonesia. Survei ini harus ditanggapi serius oleh bank dalam menentukan ke mana mereka akan mengalokasikan dana di masa mendatang."

(lom/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |