Tiga Menteri Buka Suara Tragedi Bocah SD di Ngada NTT Bunuh Diri

2 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah buka suara atas tragedi seorang siswa Sekolah Dasar Kelas IV di Nusa Tenggara Timur ditemukan tewas tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1) pekan lalu.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar menyebut kasus bocah SD yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000, harus menjadi cambuk bagi semua pihak.

"Ya, ini harus menjadi cambuk ya," ujar pria yang akrab disapa Cak Imin di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa (3/2) malam, dikutip dari Antara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, dia mengatakan kasus tersebut menjadi pengingat agar semua pihak membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapa pun.

"Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana," katanya.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul mengatakan tragedi ini harus menjadi atensi bersama.

Ia pun menyampaikan keprihatinan atas tragedi tersebut.

"Ya, tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka, ya. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama," kata Gus Ipul di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan Kemensos bersama pemerintah daerah setempat akan memperkuat pendampingan.

Pada saat yang sama, Gus Ipul juga menyinggung pentingnya penguatan data untuk memastikan jangkauan kepada masyarakat yang membutuhkan.

"Bagaimana data ini kita sajikan sebaik mungkin, sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan," ujar dia.

Sementara itu, Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyatakan akan melakukan penyelidikan atas kasus tersebut.

"Nanti coba kita selidiki ya. Saya belum tahu informasinya," kata Abdul Mu'ti.

Seorang siswa SD ditemukan tewas tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1) pekan lalu.

Tempat kejadian perkara itu berada tak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Dalam penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP), petugas kepolisian menemukan sebuah surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban.

Dalam foto yang dilihat, surat itu ditulis tangan dalam bahasa Ngada.

Dalam surat tersebut, korban meminta ibundanya untuk merelakan dia pergi lebih dulu. Dalam surat itu juga itu ditulis agar ibunda merelakannya--tak perlu menangis, mencari, atau merindukannya.

Pada bagian akhir tulisan tangan tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji dengan wajah menangis.

Dari pemeriksaan kepolisian, diduga sebelum ditemukan tewas tergantung, korban sempat meminta uang untuk membeli buku tulis dan pena kepada ibunya.

Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena ibundanya tidak memiliki uang yang cukup.

Ibunda korban, MGT (47) mengaku pada malam sebelum kejadian, korban sempat menginap di rumahnya. Lalu keesokan paginya, sekitar pukul 06.00, MGT meminta tukang ojek untuk mengantarkan korban ke pondok neneknya.

Ibunda korban mengaku pernah memberikan nasihat terakhir agar anaknya tetap rajin bersekolah.

Dari pemeriksaan polisi, ibunda korban mengaku kondisi ekonomi keluarga tergolong terbatas dan menghadapi berbagai kekurangan.

Disclaimer Kesehatan Mental - rev1Foto: Dok. CNNIndonesia
Disclaimer Kesehatan Mental - rev1

(mnf/wis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |