Jakarta, CNN Indonesia --
Toyota telah meminta karyawannya di Venezuela bekerja dari rumah imbas serangan militer Amerika Serikat akhir pekan lalu. Serangan yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro ini telah mengakibatkan 80 orang tewas per Minggu (4/1).
Kekacauan ini telah menimbulkan kekhawatiran bagi perusahaan asing, termasuk Toyota sebagai pemain penting dalam industri otomotif Venezuela.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara historis, Toyota memiliki pabrik perakitan di kota Cumana yang telah menjadi rumah produksi dari berbagai model kendaraan, termasuk sedan ringkas Corolla.
Perusahaan otomotif asal Jepang ini bersikeras keputusan mempekerjakan karyawannya dari rumah itu tidak akan mengganggu penjualan dan proses produksi kendaraan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun begitu, pabrik mobil di Cumana sebenarnya telah menghadapi berbagai gangguan operasional sebelum konflik ini terjadi. Pabrik ini mengalami penurunan produksi menjadi hanya ratusan kendaraan per 2020.
Pada 2024, ekspor Jepang ke Venezuela mencapai USD69,41 miliar atau sebesar Rp1,16 triliun (kurs Rp16.768) dengan pertumbuhan 16,1 persen dari tahun sebelumnya.
Kendaraan penumpang, truk, dan komponen otomotif menyumbang porsi terbesar dari angka pencapaian perdagangan itu.
Pabrik Toyota di Cumana dapat dilihat sebagai cerminan ketangguhan perusahaan otomotif Jepang untuk melakukan berbagai adaptasi imbas gejolak politik dan ekonomi yang terus terjadi.
Toyota Indonesia juga berperan pada otomotif Venezuela dengan mengekspor mobil. Berdasarkan data Gaikindo, Wigo, kembaran Toyota Agya/Daihatsu Ayla, adalah model buatan Indonesia yang paling banyak diekspor ke Venezuela.
Selain itu Toyota Indonesia juga mengirim Yaris Cross. Pada 2025 ekspor Toyota Indonesia mencapai hampir 6.000 unit ke Venezuela.
(iqb/fea)

















































