Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah demonstrasi besar-besaran yang mengancam rezim teokrasi Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ikut mendukung demo tersebut, kini mulai melunak.
Melalui unggahan jejaring sosialnya, Trump tidak lagi mengumbar ancaman intervensi militer seperti yang dia lakukan terhadap Venezuela.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menuliskan di Truth Social, "Saya sangat menghormati fakta bahwa semua rencana hukuman gantung, yang seharusnya dilaksanakan kemarin (lebih dari 800 orang), telah dibatalkan oleh pimpinan Iran. Terima kasih!"
Trump kini lebih menahan diri setelah melihat situasi terkini di Iran, apalagi setelah sejumlah negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Oman, meminta agar Trump mengurungkan niatnya.
"Mereka (Iran) tidak mengeksekusi siapa pun. Mereka membatalkan hukuman gantung. Itu berdampak besar," kata Trump.
Di sisi lain, para pemimpin Iran sangat percaya diri bahwa demonstrasi di negaranya berhasil dipadamkan. Bahkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengultimatum setiap serangan terhadap pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, berarti deklarasi perang skala penuh dengan negaranya.
Pernyataan itu diutarakan Pezeshkian sebagai wanti-wanti terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump soal mencari pemimpin baru Iran.
"Serangan terhadap pemimpin besar negara kita sama saja dengan perang skala penuh dengan bangsa Iran," kata Pezeshkian dalam sebuah unggahan di X, dilansir AFP, Senin (19/1).
Mengapa jatuhkan rezim lewat intervensi militer bukan pilihan?
Amerika Serikat dan Israel selalu menginginkan pergantian rezim di Iran. Ancaman intervensi militer berkali-kali dilontarkan oleh kedua pemimpin negara tersebut, namun langkah itu tidak pernah benar-benar terjadi.
Ehud Eilam penulis di laman Royal United Service Institute memberi analisis: Israel dan Amerika Serikat bisa saja melakukan intervensi militer dengan serangan udara, ditambah dengan serangan pasukan khusus dan serangan siber. Israel juga bisa terus membunuh ilmuwan nuklir dan pejabat tinggi Iran terkemuka.
Namun, upaya-upaya tersebut membutuhkan banyak sumber daya dan waktu, dan tidak ada jaminan bahwa hal itu dapat menghentikan Iran memproduksi senjata nuklir. Israel, bersama dengan Amerika Serikat, telah mencoba banyak metode tersebut selama dua dekade terakhir, yang hanya menunda program nuklir Iran.
Israel juga bisa mencoba membantu oposisi Iran untuk melakukan perubahan rezim di Iran, yang merupakan tugas rumit juga membutuhkan waktu lama, dan mungkin tidak berhasil.
Presiden Trump mengisyaratkan kemungkinan perubahan rezim di Iran. Namun, AS mungkin akan ragu-ragu dalam hal ini, setelah pengalaman pahitnya dalam mencoba perubahan rezim di negara-negara tetangga Iran, Irak dan Afghanistan.
Bersambung ke halaman berikutnya...

















































