Jakarta, CNN Indonesia --
Foto satelit terbaru menunjukkan kondisi gunung es raksasa A23a, yang diperkirakan bakal segera 'punah' setelah pecah berkeping-keping.
Dalam foto satelit terbaru yang dirilis NASA, sisa-sisa gunung es raksasa itu menunjukkan garis-garis biru mencolok yang muncul di permukaannya. Ia menjadi sinyal bahwa "megaberg" legendaris ini kemungkinan akan segera menghilang selamanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam citra terbaru, A23a tampak berubah menjadi gumpalan es bergaris-garis biru yang menyerupai "blue mush".
Melansir Live Science pada Selasa (13.1), fenomena ini menandai melemahnya struktur gunung es yang pernah memiliki luas tiga kali lipat Kota New York dan menjadikannya salah satu gunung es tertua yang pernah tercatat, dengan usia mendekati 40 tahun.
A23a merupakan anomali di antara gunung-gunung es lainnya. Dijuluki "queen of icebergs", gunung es raksasa ini terlepas dari Shelf Es Filchner-Ronne di Antarktika pada musim panas 1986.
Namun, tak lama setelah itu, bagian bawahnya yang terendam air tersangkut di dasar laut, membuatnya terjebak hampir di tempat yang sama selama sebagian besar hidupnya. Selama periode tersebut, ukurannya hanya menyusut sedikit karena tetap berada dekat dengan lapisan terluar es.
Perubahan besar baru terjadi pada 2020 ketika A23a akhirnya terlepas dan mulai mengapung menjauh dari Antarktika.
Perjalanannya pun penuh dinamika. Gunung es ini sempat terperangkap dalam arus laut kuat atau gyre, yang membuatnya berputar di tempat selama berbulan-bulan.
Setelah berhasil keluar dari pusaran tersebut pada Desember 2024, A23a bergerak menuju Pulau South Georgia. Pergerakan ini memicu kekhawatiran para peneliti akan potensi bencana ekologi, khususnya bagi populasi penguin di pulau tersebut jika gunung es itu kembali kandas.
Namun, skenario terburuk berhasil dihindari ketika A23a mulai pecah pada Mei 2025, sesaat sebelum mencapai daratan.
Sejak saat itu, potongan terbesar yang tersisa dari A23a terus bergerak lebih jauh ke utara, memasuki Samudra Atlantik Selatan. Di wilayah ini, aliran air yang lebih hangat dari Amerika Selatan mulai mempercepat proses pelemahannya.
Citra satelit Terra milik NASA yang diambil pada 26 Desember 2025 menunjukkan A23a dalam kondisi yang hampir tak dikenali. Ukurannya kini diperkirakan tinggal sekitar sepertiga dari luas aslinya.
Permukaannya dipenuhi kolam-kolam air berwarna biru yang dikelilingi dinding es putih "rampats," serta dikelilingi oleh ratusan gunung es kecil yang terlepas dari tepinya.
Foto-foto tersebut juga memperlihatkan keberadaan "ice mélange," yakni campuran es dan lumpur abu-abu yang kemungkinan bocor dari bagian bawah gunung es.
Menurut ilmuwan iklim Universitas Colorado Boulder, Ted Scambos, kolam-kolam biru tersebut merupakan kolam lelehan yang terbentuk ketika es permukaan kehilangan integritas strukturalnya.Kolam ini membentuk pola garis karena berat air di dalam retakan es memaksa retakan tersebut semakin terbuka.
"Berat air yang berada di dalam retakan es dan memaksa retakan tersebut terbuka," tambah Scambos.
Peneliti senior dari Pusat Data Salju dan Es Nasional (NSIDC), Walter Meier, menjelaskan bahwa retakan-retakan tersebut kemungkinan sejajar dengan alur di bagian bawah gunung es.
Alur itu terbentuk akibat pergerakan A23a selama ratusan tahun di atas permukaan tanah saat masih terhubung dengan Lembaran Es Filchner-Ronne.
"Sungguh mengesankan bahwa guratan-guratan ini masih terlihat setelah waktu yang begitu lama," ujar Chris Shuman, seorang glasiolog pensiunan dari Universitas Maryland.
Namun, foto lain yang diambil pada 27 Desember oleh seorang astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional menunjukkan bahwa garis-garis terang tersebut mungkin mulai memudar.
Gambar lanjutan memperlihatkan kolam air biru yang tampak lebih merata di seluruh permukaan gunung es.
Hingga kini, belum dapat dipastikan seberapa banyak bagian A23a yang masih bertahan, atau apakah proses kehancurannya telah memasuki tahap akhir.
Sepanjang keberadaannya, A23a berulang kali menyandang gelar "gunung es terbesar di dunia". Gelar tersebut terakhir kali direbut kembali pada Juni 2023 setelah gunung es A76A pecah, sebelum akhirnya kembali hilang pada September 2025 tak lama setelah pertemuannya dengan South Georgia.
Beberapa media dilaporkan keliru menyebut A23a masih memegang gelar tersebut, kemungkinan karena mengacu pada data lama.
Menurut NSIDC, gunung es terbesar di dunia saat ini adalah D15A, dengan luas sekitar 1.200 mil persegi atau 3.100 kilometer persegi, beberapa ratus mil persegi lebih kecil dibandingkan ukuran puncak A23a.
(wpj/dmi)

















































