Usia Produktif Dominasi Kasus DBD, Waspada Risiko Komplikasi

2 hours ago 11

CNN Indonesia

Jumat, 19 Jun 2026 23:15 WIB

Usia Produktif Dominasi Kasus DBD, Waspada Risiko Komplikasi Ilustrasi. Waspada demam berdarah, bisa mneyerang berbagai usia. (REUTERS/Rodolfo Buhrer)

Jakarta, CNN Indonesia --

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan yang serius di Indonesia. Selama ini, penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut kerap dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang anak-anak.

Namun, data terbaru menunjukkan bahwa DBD kini menjadi ancaman nyata bagi seluruh kelompok usia, termasuk orang dewasa.

Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan bahwa dalam tujuh tahun terakhir, kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia 5-14 tahun. Kelompok ini menyumbang 41 persen dari total kematian akibat DBD pada 2025, menegaskan bahwa anak-anak masih menjadi kelompok yang paling rentan mengalami dampak fatal akibat infeksi dengue.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, ancaman DBD tidak berhenti pada kelompok usia tersebut. Dalam lima tahun terakhir, kasus DBD justru paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15-44 tahun, yakni mencapai 42 persen dari total kasus pada 2025.

Fakta ini memperlihatkan bahwa DBD bukan lagi sekadar penyakit anak, melainkan ancaman kesehatan yang dapat menyerang siapa saja.

Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi mengatakan masih banyak orang tua yang menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu-waktu tertentu.

"Padahal, risiko penularan dapat terjadi kapan saja, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk syok dengue yang memerlukan penanganan segera," ujar Hartono dalam keterangannya saat menghadiri ABCD Land - Ayo Bersama Cegah DBD yang diselenggarakan Takeda.

Menurutnya, perlindungan terhadap anak tidak dapat hanya mengandalkan satu langkah pencegahan. Upaya seperti menerapkan 3M Plus dan mengenali gejala DBD sejak dini tetap penting dilakukan.

"Selain itu, pendekatan yang benar-benar komprehensif termasuk perlindungan dari dalam melalui vaksinasi juga dapat membantu mengurangi risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD. Karena itu, IDAI mendorong orang tua untuk aktif berkonsultasi dengan dokter anak mengenai langkah perlindungan untuk buah hati mereka," katanya.

Hartono menambahkan, IDAI telah memberikan rekomendasi vaksin dengue pada anak sebagai bagian dari upaya perlindungan optimal terhadap DBD.

Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Sukamto Koesnoe mengingatkan bahwa orang dewasa juga berisiko mengalami infeksi dengue dengan komplikasi serius.

"DBD sering kali identik dengan penyakit pada anak, padahal orang dewasa juga dapat terinfeksi dan mengalami komplikasi serius," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa risiko komplikasi meningkat pada individu yang memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas. Penderita hipertensi memiliki risiko komplikasi dua hingga tiga kali lebih tinggi.

Risiko tersebut meningkat menjadi tiga hingga lima kali lebih tinggi pada pasien diabetes melitus, hingga tujuh kali lebih tinggi pada penderita penyakit ginjal, serta dua hingga 12 kali lebih tinggi pada mereka yang memiliki asma atau penyakit paru kronik dibandingkan pasien tanpa komorbiditas.

Selain berdampak pada kesehatan, DBD juga dapat mengganggu produktivitas dan kualitas hidup pasien maupun keluarganya.

"Pencegahan yang komprehensif perlu menjadi perhatian seluruh kelompok usia. PAPDI telah merekomendasikan vaksinasi DBD bagi orang dewasa usia 18-60 tahun sebagai bagian dari upaya perlindungan yang komprehensif," kata Sukamto.

Meningkatnya kasus DBD dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi perhatian berbagai pihak. Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan bahwa beban penyakit dengue di Indonesia terus bertambah dan membutuhkan upaya pencegahan yang lebih kuat.

"Rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa kita belum bisa berpuas diri dan tidak boleh lengah," ujar Andreas.

Menurutnya, upaya pencegahan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat luas agar semakin banyak keluarga Indonesia dapat mengambil langkah perlindungan yang tepat sebelum terlambat.

Sebagai bagian dari upaya edukasi publik, PT Takeda Innovative Medicines menggelar kegiatan bertajuk 'ABCD Land - Ayo Bersama Cegah DBD' pada 20-21 Juni 2026 di Urban Forest, Jakarta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Langkah Bersama Cegah DBD yang telah dijalankan sejak 2023 bersama berbagai mitra, termasuk Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat.

(tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |