Wakil Trump Tegaskan Minyak Venezuela Hanya Boleh Dijual atas Izin AS

1 day ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan Venezuela hanya boleh menjual minyaknya jika hal itu sejalan dengan kepentingan nasional AS.

Dalam wawancara dengan program Jesse Watters Primetime di Fox News yang dijadwalkan tayang Rabu waktu setempat, Vance menyebut AS memegang kendali penuh atas minyak negara tersebut.

"Kami menguasai sumber daya energinya, dan kami mengatakan kepada rezim tersebut: kalian boleh menjual minyak selama itu melayani kepentingan nasional Amerika. Jika tidak, kalian tidak diizinkan menjualnya," kata Vance.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selasa lalu (6/1) Presiden Donald Trump mengeklaim Venezuela akan memberi 30-50 juta barel minyak menyusul operasi militer hingga penculikan Presiden Nicolas Maduro oleh AS.

"Dengan senang hati saya mengumumkan Otoritas Sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 dan 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang sudah disetujui kepada Amerika Serikat," ujar Trump dalam unggahan di media sosial buatannya, Truth Social.

Minyak itu akan dijual dengan harga pasar, dan uangnya akan dikelola Trump.

"Ini untuk memastikan penggunaannya bermanfaat bagi rakyat Venezuela dan Amerika Serikat" ujar dia.

Ia sudah meminta Menteri Energi Chris Wright untuk segera melaksanakan rencana ini. Nantinya, minyak akan diangkut dengan kapal penyimpanan, dan dibawa langsung ke dermaga bongkar muat di Amerika Serikat.

Pejabat senior pemerintahan AS mengatakan minyak mentah itu sudah diproduksi dan dikemas dalam barel.

Sebagian besar minyak saat ini berada di atas kapal dan akan dikirim ke fasilitas AS di Teluk untuk dimurnikan, demikian dikutip CNN.
Penangkapan dan operasi AS menuai kritik dari dunia dan menyebut tindakan itu melanggar hukum internasional.

Banyak pihak meyakini operasi AS di Venezuela karena ingin menguasai minyak negara ini. Venezuela merupakan pemilik cadangan minyak mentah terbesar di dunia, mengalahkan Arab Saudi dan Iran.

[Gambas:Video CNN]

(pta)

Read Entire Article
| | | |