ABK WNI Berbulan-bulan Telantar di Afrika, Gaji Tak Dibayar

3 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah pria warga negara Indonesia (WNI) berbulan-bulan terkatung-katung di lepas pantai Afrika.

Nyaris setahun mereka berada di atas laut tanpa kepastian akan upah dan nasib.

Dilansir dari AFP, Surono, seorang teknisi mesin dari Tegal, Jawa Tengah, mengaku sudah berada di Namibia sejak Maret 2025. Ia terbang ke negara Afrika Selatan tersebut untuk mengadu nasib sebagai nelayan di kapal penangkap ikan tuna berbendera Portugal, Novo Ruivo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mulanya, pekerjaan itu berjalan lancar. Namun, ketika ia berlabuh di Mindelo, Cape Verde, pada September 2025, pemilik kapal pergi dengan membawa paspor para nelayan. Mereka ditelantarkan tanpa upah sepeser pun.

Menurut pengakuan Surono, gaji nelayan di Novo Ruivo mestinya sebesar $1.200 per bulan. Artinya, ia dan para nelayan berhak menerima $13.200 selama 11 bulan melaut ini.

Surono mengeluhkan perusahaan pemilik kapal yang tega menelantarkan mereka tanpa upah. Padahal, niat awal ia bekerja hingga lintas benua semata-mata agar bisa mencukupi kebutuhan keluarganya di kampung.

"Keluarga saya menangis karena saya tidak bisa mendapatkan uang. Anak-anak dan istri saya butuh uang untuk makan," kata Surono (47) kepada AFP dari kapal yang terbengkalai di Cape Verde.

Surono dan para nelayan kini menghadapi dilema berat: pulang tanpa sepeser pun uang atau bertahan terlunta-lunta di atas kapal.

"Kami ingin pulang, tapi jika kami pulang tanpa uang, lalu bagaimana? Kami sudah bekerja keras di laut. Bagaimana mungkin kami ditinggalkan begitu saja?" ucarnya nanar.

[Gambas:Video CNN]

Rintihan Surono ini bukan tanpa alasan. Ia dan para nelayan, yang terdiri dari enam WNI dan enam warga Angola, bekerja sangat keras hingga mendapat hasil laut yang melimpah. Wajar jika mereka bersikeras mendapat haknya.

Saat diwawancara AFP, keluarga Surono di Tegal mengaku kesulitan untuk bertahan hidup sehari-hari karena kondisi Surono. Mereka terpaksa harus berutang untuk makan dan biaya sekolah.

"Berat. Saya harus berutang untuk bertahan hidup," kata istrinya, Kiki Andriani (38), kepada AFP.

"Saya ingin suami saya pulang, tapi jika dia pulang tanpa upah, maka kerja kerasnya selama setahun akan sia-sia," tutur Kiki.

Wahyudin (36), warga asal Cirebon, Jawa Barat, yang juga menjadi awak kapal, mengaku ingin pulang karena pasangannya telah lama menunggunya untuk menikah.

"Saya punya tunangan yang menunggu saya di rumah di Cirebon. Kami berencana menikah," kata Wahyudin.

"Jika kami tidak mendapat ikan sama sekali, saya bisa paham (jika tidak dibayar). Tapi masalahnya kami dapat banyak ikan (selama ini)," ucapnya.

Bersambung ke halaman berikutnya...


Read Entire Article
| | | |