Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim melarang kementerian, lembaga, dan badan usaha milik negara (BUMN) menggelar open house saat Idulfitri guna menghemat pengeluaran nasional.
Dalam konferensi pers pada Rabu (11/3), Anwar menyampaikan perang Iran vs Amerika Serikat (AS) dan Israel sudah mulai memengaruhi perekonomian dunia usai rantai pasok energi terganggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anwar terang-terangan mengatakan Malaysia turut mengalami dampak perang tersebut dan menghadapi risiko kenaikan biaya transportasi, naiknya harga komoditas, serta ketidakstabilan ekonomi.
Oleh karena itu, ia memutuskan menghemat pengeluaran nasional di lingkungan pemerintah demi menjaga kestabilan.
"Pemerintah juga telah menerapkan langkah-langkah awal untuk menghemat pengeluaran nasional, termasuk membatalkan penyelenggaraan acara open house Idulfitri oleh kementerian, lembaga, dan BUMN, serta membatasi kunjungan luar negeri aparatur negara," tulisnya dalam unggahan resmi di X.
Anwar menyampaikan pemerintah Malaysia berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) BUDI95 sebesar RM1,99 per liter. Hal ini semata-mata demi kepentingan rakyat Negeri Jiran.
Ia juga berjanji akan terus memantau perkembangan konflik Timur Tengah dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna "memastikan stabilitas ekonomi negara tetap terjaga dan kesejahteraan rakyat terus terlindungi."
Timur Tengah membara setelah AS-Israel meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Iran lantas membalas dengan menyerang balik Israel serta pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. Serangan balasan Iran mengenai negara-negara Teluk, mulai dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Oman, Kuwait, bahkan hingga Yordania.
Perang AS-Israel vs Iran telah menyebabkan krisis energi global. Sebab Iran menutup Selat Hormuz dan mengancam akan menyerang kapal apa pun yang melintas, kecuali milik China dan Rusia.
Awal pekan ini, harga minyak dunia sempat melambung ke level tertinggi sejak 2022 yakni lebih dari US$100 per barel.
(blq/dna)


















































