Apa Itu Gas SO2 yang Menyebar Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau?

3 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Geologi Kementerian ESDM mengonfirmasi warna merah pada peta satelit menunjukkan sebaran gas sulfur dioksida (SO2) dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah sampai di wilayah Banten, Jabodetabek, dan Lampung. Meski demikian, masyarakat diminta untuk tidak perlu cemas selama bau seperti belerang tidak tercium.

"Selain abu vulkanik dan lontaran batu pijar, erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga mengeluarkan gas SO2, informasi yang beredar di jagat media sosial terkait gas SO2 turut menimbulkan keresahan bagi masyarakat," tulis Badan Geologi melalui Instagram resminya.

Peta satelit SO2 tidak otomatis menandakan bahwa udara di Jakarta berbahaya. Pasalnya, citra tersebut merekam jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi gas di permukaan yang kita hirup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bahaya S02 ini bergantung pada tingkat ketinggiannya di troposfer karena apabila berada di ketinggian tertentu, tidak langsung terhirup oleh masyarakat," tulis Badan Geologi.

Namun, jika bau SO2yang menyerupai belerang mulai tercium, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker, tetap berada di dalam ruangan, dan tidak meminum air hujan karena berbahaya bagi tubuh.

Badan Geologi menyebut konsentrasi SO2 di bawah 5 ppm masih aman bagi kesehatan. Namun, jika melebihi batas normal, SO2 dapat menyebabkan batuk, sesak napas, iritasi mata, serta iritasi saluran napas dan paru.

Apa itu SO2?

Sulfur dioksida adalah salah satu spesies dari gas-gas oksida sulfur (SOx) yang berbau tajam, tak berwarna, dan mudah larut dalam air. SO2 dan gas-gas oksida sulfur lainnya terbentuk saat terjadi pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur.

Sulfur terdapat dalam hampir semua material mentah yang belum diolah seperti minyak mentah, batu bara, dan bijih-bijih yang mengandung metal seperti alumunium, tembaga, seng, timbal, dan besi.

Mengutip Global Atmosphere Watch, gas SO2 telah lama dikenal sebagai gas yang dapat menyebabkan iritasi pada sistem pernafasan, seperti pada selaput lendir hidung, tenggorokan, dan saluran udara di paru-paru. Efek kesehatan ini bisa lebih buruk pada penderita asma.

Selain itu, SO2 yang terkonversi di udara menjadi pencemar sekunder seperti aerosol sulfat. Aeorosol yang dihasilkan sebagai pencemar sekunder umumnya mempunyai ukuran yang sangat halus sehingga dapat terhisap ke dalam sistem pernafasan bawah.

Aerosol sulfat yang masuk ke dalam saluran pernafasan dapat menyebabkan dampak kesehatan yang lebih berat daripada partikel-partikel lainnya karena memiliki sifat korosif dan karasinogen.

[Gambas:Video CNN]

Bahaya gas SO2

Kadar SO2 yang tinggi di udara juga merupakan salah satu penyebab terjadinya hujan asam. Hujan asam ini disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida.

Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan itu kemudian akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman.

Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya spesies yang bertahan. Jenis plankton dan invertebrata merupakan makhluk yang paling pertama mati akibat pengaruh pengasaman.

Sulfur dioksida juga berbahaya bagi tanaman. Gas SO2 dengan konsentrasi tinggi dapat membunuh jaringan pada daun, pinggiran daun, dan daerah di antara tulang-tulang daun rusak. Kerusakan tanaman ini akan diperparah dengan kenaikan kelembaban udara.

(fta/dmi)

Read Entire Article
| | | |