Apakah GERD Bisa Sembuh? Ini Penjelasan Dokter

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Minggu, 01 Feb 2026 17:10 WIB

Penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) kerap dianggap sebagai gangguan lambung yang akan terus kambuh. Lantas, apakah GERD bisa sembuh? Ilustrasi. Penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) kerap dianggap sebagai gangguan lambung yang akan terus kambuh. (iStockphoto/designer491)

Jakarta, CNN Indonesia --

Penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) kerap dianggap sebagai gangguan lambung yang akan terus kambuh.

Banyak penderita bertanya-tanya, apakah GERD bisa sembuh atau hanya bisa dikendalikan? Apakah pemicu kekambuhan terbesarnya telat makan atau justru stres?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Ari Fahrial Syam mengatakan, GERD merupakan penyakit yang bisa diobati dan dikontrol, tetapi tidak selalu bisa sembuh total jika faktor pencetusnya masih terus ada.

"Penyakit GERD ini bisa diobati. Karena itu, kepada pasien-pasien yang mengalami GERD harus berobat secara teratur," ujar Ari saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (26/1).

Menurut Ari, tujuan utama pengobatan GERD adalah menekan produksi asam lambung agar tidak kembali naik ke kerongkongan maupun organ lain. Selama asam lambung dapat dikontrol dengan baik, gejala GERD bisa mereda bahkan menghilang dalam waktu lama.

Namun, GERD sangat berpotensi kambuh apabila pemicu utamanya tidak ditangani. Dalam hal ini, Ari menegaskan bahwa GERD tidak hanya berkaitan dengan pola makan.

"Terus terang saja, stres itu akan meningkatkan produksi asam lambung," katanya.

Ia menjelaskan, stres dan kecemasan memiliki peran besar dalam memperburuk GERD. Saat seseorang mengalami tekanan psikologis, produksi asam lambung meningkat sehingga memicu refluks ke kerongkongan.

Meski demikian, telat makan, pola makan tidak teratur, serta konsumsi makanan tertentu dapat memperburuk keluhan, terutama jika dikombinasikan dengan faktor gaya hidup lain.

Tak cuma bergantung pada obat

Terapi GERD tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga pemeriksaan lanjutan dan perubahan gaya hidup. Pasien dianjurkan menjalani pengobatan secara rutin sesuai anjuran dokter.

Dalam kasus tertentu, pemeriksaan tambahan diperlukan untuk memastikan tingkat keparahan refluks asam lambung.

ilustrasi asam lambungIlustrasi. Terapi GERD tak cuma bergantung pada konsumsi obat-obatan. (iStockphoto/Tharakorn)

"Perlu dilakukan pemeriksaan endoskopi, bahkan kalau perlu juga pemeriksaan pH metri untuk menentukan apakah memang terjadi peningkatan asam lambung yang berlebihan," ujar Ari.

Saat ini, selain obat-obatan golongan penghambat asam lambung yang umum digunakan, telah tersedia terapi obat baru yang dinilai lebih efektif.

"Ada obat-obat baru muncul saat ini yang kita kenal dengan P-CAB. Itu lebih baik daripada Omeprazole," jelasnya.

Ari menyebut, beberapa obat dalam kelompok tersebut, antara lain Tegoprazan dan Vonoprazan, dinilai membantu pasien GERD dalam mengontrol asam lambung dengan lebih baik.

Namun, ia menegaskan bahwa pengobatan GERD tidak akan optimal jika hanya mengandalkan obat tanpa memperbaiki faktor pemicu.

Dengan pengobatan yang tepat, pemeriksaan teratur, serta pengelolaan stres dan gaya hidup, GERD dapat dikendalikan sehingga tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.

(nga/bac)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |