Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah dokumen baru terkait pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein diungkap oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS).
Arsip yang dirilis pada Jumat (30/1) itu berisi sejumlah nama tersohor, mulai dari Presiden AS Donald Trump, CEO Tesla Elon Musk, hingga miliarder Inggris Richard Branson.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari AFP pada Sabtu (31/1), Trump masuk dalam berkas Epstein karena ia dilaporkan ke FBI atas tuduhan pelecehan seksual. Banyak laporan masuk melalui telepon dan secara elektronik, dengan beberapa di antaranya disebut tidak kredibel.
Para penyelidik FBI telah menindaklanjuti laporan-laporan yang diterima dan mendapati sebagian informasi tidak berdasar.
"Beberapa dokumen berisi klaim yang tidak benar dan sensasional terhadap Presiden Trump yang diserahkan kepada FBI tepat sebelum pemilihan umum 2020. Untuk jelasnya, klaim-klaim tersebut tidak berdasar dan keliru," demikian pernyataan Departemen Kehakiman.
Miliarder Inggris Richard Branson juga terseret dalam berkas Epstein yang diungkap departemen. Berkas-berkas itu menunjukkan Branson punya hubungan baik dengan Epstein, salah satunya terlihat dalam email pada 11 September 2013.
Dalam surat elektronik tersebut, Branson menulis kepada Epstein: "Senang sekali bertemu dengan Anda kemarin. Anak-anak di Watersports terus membicarakannya! Kapan pun Anda berada di sini, saya harap kita bisa bertemu. Asal Anda bawa harem!"
Selain Branson, jutaan halaman dokumen itu juga menyeret nama Elon Musk. Pada November 2012, Epstein mengirim email kepada sang miliarder, menanyakan, "berapa banyak orang yang Anda butuhkan selama perjalanan helikopter ke pulau?"
"Mungkin hanya Talulah dan saya. Hari/malam apa yang bakal jadi pesta paling liar di pulau Anda?" balas Elon Musk kemudian.
Mantan pangeran Inggris, Andrew Mountbatten-Windsor, juga tercatat pernah bersurat dengan Epstein.
Epstein menghubungi Andrew untuk bertanya: "Jam berapa Anda ingin saya ... kita juga butuh ... waktu pribadi."
Andrew, yang gelarnya sudah dicabut itu, kemudian menjawab: "Kita bisa makan malam di Istana Buckingham dan menikmati banyak privasi."
Lebih lanjut, arsip Epstein juga menunjukkan hubungan yang bersangkutan dengan Howard Lutnick, pengusaha yang saat ini menjabat Menteri Perdagangan Trump.
Dalam sebuah email, keduanya tercatat pernah membuat rencana makan siang di pulau Karibia milik Epstein pada Desember 2012.
"Kami sedang menuju ke arah Anda dari St. Thomas," tulis istri Lutnick kepada sekretaris Epstein.
Beberapa email juga menunjukkan Epstein sempat berhubungan dengan Steve Tisch, produser film "Forrest Gump" dan "Risky Business" sekaligus pemilik bersama tim sepak bola New York Giants.
Dalam salah satu percakapan, Epstein terlihat mencoba menghubungkan Tisch dengan seorang perempuan, yang ia gambarkan sebagai "orang Rusia dan jarang mengatakan kebenaran, tapi menyenangkan."
AS merilis jutaan halaman dokumen terkait kasus perdagangan seksual Epstein pada Jumat.
Wakil Jaksa Agung Todd Blanche mengatakan Gedung Putih tidak terlibat dalam peninjauan berkas-berkas ekstensif terkait Epstein, yang dulunya merupakan teman dekat Trump.
"Mereka tidak memberi tahu departemen ini bagaimana cara melakukan peninjauan, apa yang harus dicari, apa yang harus disensor, dan apa yang tidak boleh disensor," kata Blanche dalam konferensi pers.
Epstein meninggal di sel penjara New York pada 2019 saat menunggu persidangannya atas tuduhan perdagangan seks terhadap gadis di bawah umur. Kematiannya dinyatakan sebagai bunuh diri.
Rilis Departemen Kehakiman sebelumnya telah mengungkap hubungan Epstein dengan para eksekutif bisnis papan atas seperti Bill Gates dari Microsoft, selebriti seperti pembuat film Woody Allen, akademisi, dan politisi, termasuk Trump dan mantan presiden Bill Clinton.
Baik Trump dan Clinton membantah terlibat dalam kasus Epstein.
(blq/dmi)

















































