Avtur Naik Maskapai Lumpuh, 'Kaum Sultan' Kian Sering Naik Jet Pribadi

3 hours ago 7

CNN Indonesia

Selasa, 05 Mei 2026 06:15 WIB

Di tengah pembatalan puluhan ribu penerbangan komersial akibat kenaikan bahan bakar avtur, ironisnya penggunaan jet pribadi justru melonjak tajam. Ilustrasi jet pribadi atau private jet. (executive.embraer.com)

Jakarta, CNN Indonesia --

Krisis bahan bakar avtur akibat Perang Iran tidak menyurutkan gaya hidup para miliarder alias "kaum sultan". Di tengah pembatalan puluhan ribu penerbangan komersial, penggunaan jet pribadi justru melonjak tajam.

Kondisi ini menciptakan kesenjangan yang kian lebar antara kaum ultra-kaya dan masyarakat umum, terutama setelah kenaikan harga avtur.

Seperti dikutip Mirror, berdasarkan analisis firma data penerbangan WINGX Advance, industri jet pribadi global nyaris tidak terdampak oleh kenaikan biaya bahan bakar yang mencekik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasokan bahan bakar fosil dari kawasan Teluk praktis terhenti sejak pecahnya perang dan blokade Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Namun, aktivitas penerbangan privat justru menunjukkan tren sebaliknya. Penerbangan jet pribadi secara global naik 4,7 persen (YoY) per 19 April 2026.

Di kota-kota Amerika Serikat seperti Washington DC dan Houston, penggunaan naik hingga 17 persen. Hal ini dipicu oleh kelangkaan staf TSA (otoritas keamanan transportasi) di bandara komersial akibat pembekuan gaji.

Pengiriman avtur global pekan lalu merosot ke level terendah dalam sejarah, yakni di bawah 2,3 juta ton, kurang dari separuh rata-rata volume sebelum perang.

Analis WINGX Advance, Richard Koe, mencatat bahwa harga avtur Jet A1 telah naik dua kali lipat sejak Januari. Namun, biaya ini langsung dibebankan kepada konsumen akhir. "Karena aktivitas terbang tetap naik, jelas bahwa permintaan mereka tidak elastis terhadap harga," jelas Koe.

Penerbangan jet pribadi merupakan salah satu aktivitas manusia yang paling boros energi dan menghasilkan emisi karbon tertinggi. Studi dari jurnal Nature mengungkapkan fakta miris.

"Sebagian besar pesawat kecil ini membuang lebih banyak karbon dioksida dalam dua jam terbang dibandingkan rata-rata emisi yang dihasilkan satu orang biasa dalam satu tahun," bunyi fakta dalam studi itu.

Data tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 250 ribu orang super kaya menghasilkan 17,2 juta ton karbon dioksida. Angka ini setara dengan total emisi tahunan 67 juta penduduk Tanzania.

Bahkan, laporan Oxfam mengklaim miliarder melepaskan lebih banyak polusi karbon dalam 90 menit terbang daripada yang dihasilkan rata-rata orang dalam seumur hidup.

Stefan Gössling, peneliti transportasi dari Linnaeus University Swedia, menyoroti bahwa masalah utamanya bukan hanya soal total emisi, melainkan aspek keadilan.

Sebelumnya, Badan Energi Internasional (IEA) sendiri telah memperingatkan bahwa Eropa bisa kehabisan avtur dalam hitungan minggu di tahun 2026.

"Kerusakan lingkungan dilakukan oleh mereka yang punya banyak uang, sementara biayanya harus ditanggung oleh mereka yang punya sedikit uang," tegas Gössling.

(wiw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |