Brawijaya Hospital | CNN Indonesia
Kamis, 16 Apr 2026 14:56 WIB
Foto: iStockphoto/Udom Pinyo
Jakarta, CNN Indonesia --
Polusi udara kini menjadi salah satu krisis kesehatan global yang berdampak langsung pada meningkatnya risiko gangguan pernapasan, baik akut maupun kronis. Paparan partikel halus dan gas berbahaya tidak hanya merusak jaringan paru-paru, tetapi juga melemahkan sistem imun tubuh.
Sejumlah tenaga medis mengingatkan bahwa memahami kaitan antara kualitas udara yang buruk dan mekanisme infeksi merupakan langkah penting dalam upaya pencegahan.
Dalam konteks ini, fasilitas layanan kesehatan seperti Brawijaya Hospital turut menyoroti meningkatnya kasus gangguan pernapasan yang berkaitan erat dengan polusi udara, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ISPA sendiri merupakan gangguan pernapasan yang menyerang saluran mulai dari hidung hingga paru-paru. Kondisi ini kerap dipicu oleh patogen yang lebih mudah berkembang dalam lingkungan dengan kualitas udara buruk.
Partikel mikroskopis seperti PM2.5, misalnya, mampu membawa virus dan bakteri masuk lebih dalam ke sistem pernapasan, sekaligus mengiritasi mukosa dan mempercepat proses infeksi.
Dampak polusi terhadap kesehatan paru-paru tidak bisa dianggap sepele. Paparan jangka panjang diketahui berkontribusi terhadap berbagai penyakit serius. Salah satunya adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan bronkitis, yang dipicu oleh peradangan kronis akibat gas berbahaya seperti nitrogen dioksida (NO2).
Selain itu, polusi udara juga menjadi pemicu utama serangan asma akut. Partikel debu halus dan ozon dapat meningkatkan sensitivitas saluran napas, memicu batuk, mengi, hingga penyempitan jalan napas yang memerlukan penanganan segera.
Tak hanya itu, polusi juga memperparah ISPA dengan merusak sistem mucociliary clearance, yakni mekanisme pembersihan alami paru-paru menggunakan rambut getar (silia).
Saat silia lumpuh akibat polutan, virus influenza atau bakteri pneumonia lebih mudah menempel dan menginfeksi jaringan dalam, sehingga durasi sembuh ISPA menjadi lebih lama.
Kelompok anak-anak menjadi salah satu yang paling rentan. Paparan polusi dapat menghambat perkembangan paru-paru mereka, yang berdampak pada penurunan fungsi paru hingga dewasa. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga meningkatkan risiko munculnya asma sejak dini.
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC-WHO) mengklasifikasikan polusi udara luar ruangan sebagai karsinogenik golongan pertama. Bahan kimia dalam polusi memicu mutasi genetik pada sel paru yang dapat menjadi tumor ganas, sekaligus menyebabkan peradangan akut pada membran mukosa (rinitis iritan).
Untuk menekan risiko tersebut, para ahli menyarankan sejumlah langkah pencegahan. Penggunaan masker respirator seperti N95 atau KN95 saat beraktivitas di luar ruangan menjadi salah satu cara efektif untuk menyaring partikel halus.
Selain itu, masyarakat juga diimbau rutin memantau indeks kualitas udara (AQI). Apabila angka AQI menunjukkan kategori "Tidak Sehat", segera batasi aktivitas outdoor, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Upaya lain yang tak kalah penting adalah menjaga kualitas udara di dalam ruangan, menghindari sumber polusi domestik seperti asap rokok, serta menerapkan pola hidup sehat guna meningkatkan daya tahan tubuh.
Kemudian, hindari membakar sampah, meminimalkan penggunaan kompor berbahan bakar padat yang berasap pekat, dan ciptakan lingkungan rumah yang 100% bebas dari asap rokok untuk mencegah iritasi pernapasan keluarga.
Selain itu, terapkan etika saat batuk. Sebab, ISPA juga menular lewat droplet. Rutin mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etika batuk yang benar adalah cara termurah namun paling efektif untuk memutus rantai infeksi mikroorganisme.
Dokter Spesialis Paru di Brawijaya Hospita, dr. Sutji Astuti Marlono, Sp.P, menekankan pentingnya deteksi dini, terutama bagi masyarakat yang mulai mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau infeksi yang berulang.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menunda pemeriksaan ketika gejala gangguan pernapasan mulai muncul. Evaluasi medis secara menyeluruh diperlukan untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Dengan demikian, jangan tunggu hingga gejala semakin parah. Segera jadwalkan pemeriksaan Anda di Brawijaya Hospital dan dapatkan penanganan yang tepat agar kesehatan paru-paru tetap terjaga di tengah ancaman polusi udara yang kian meningkat.
Sebagai informasi, Brawijaya Hospital Group merupakan penyedia layanan kesehatan swasta terkemuka di Indonesia, yang menghadirkan perawatan berkualitas tinggi dan berpusat pada pasien melalui jaringan enam rumah sakit dan satu klinik: Antasari, Saharjo, Taman Mini, Duren Tiga, Depok, Tangerang, dan Klinik Kemang.
Didirikan pada tahun 2006 sebagai pelopor rumah sakit ibu dan anak, Brawijaya Hospital Group telah berkembang menjadi jaringan layanan kesehatan komprehensif dengan layanan unggulan di bidang jantung, onkologi, fertilitas, ortopedi, dan bedah minimal invasif.
Saat ini Brawijaya Hospital melayani lebih dari satu juta pasien setiap tahun, termasuk peserta BPJS Kesehatan dan Tenaga Kerja (khusus di Brawijaya Hospital Tangerang).
(inh)
Add
as a preferred source on Google

















































