BI Perkuat Intervensi dan Atur Penerbitan SRBI demi Jaga Rupiah

2 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) bertekad akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. Langkah tersebut dilakukan melalui optimalisasi berbagai instrumen moneter, termasuk intervensi di pasar valuta asing hingga pengelolaan likuiditas.

Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu prasyarat utama untuk menjaga inflasi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Bank Indonesia terus berkomitmen menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," kata Erwin dalam keterangan resmi, Rabu (29/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan BI tidak hanya mengandalkan kebijakan suku bunga, BI juga mempertajam berbagai instrumen moneter lain untuk menjaga stabilitas rupiah.

Menurutnya, instrumen yang dioptimalkan meliputi triple intervention di pasar valuta asing, yakni melalui pasar spot, Non Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).

"Berbagai instrumen, termasuk triple intervention di pasar valas (Spot, NDF dan DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging, terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing," ujarnya.

Selain itu, BI juga memperkuat strategi menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan melalui pengelolaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Erwin mengatakan posisi SRBI saat ini berada dalam tren yang semakin terkendali. Ke depan, penerbitan instrumen tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan upaya menarik aliran modal asing.

"Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," katanya.

Di sisi lain, BI juga akan terus mengoptimalkan instrumen kebijakan lain untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui penguatan implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Menurut Erwin, kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong pembiayaan ke sektor-sektor prioritas sekaligus memperkuat mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar penyaluran kredit menjadi lebih efektif.

"Implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) akan terus diperkuat guna mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas, termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif," ujarnya.

Selain itu, BI juga akan mempercepat digitalisasi sistem pembayaran sebagai bagian dari bauran kebijakan untuk mendukung aktivitas ekonomi nasional.

"Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Erwin.

[Gambas:Video CNN]

(lau/agt)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |