Calon Deputi Gubernur BI Dicky Usung Penguatan Ekosistem Digital

2 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dicky Kartikoyono berencana memperkuat digitalisasi ekosistem pembayaran di hadapan Komisi XI DPR RI saat menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test).

Upaya itu diharapkan ampuh menggenjot target pertumbuhan ekonomi 8 persen Indonesia 

Dicky, yang saat ini menjabat Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran sekaligus Asisten Gubernur BI, menyampaikan visi dan misi yang ia rancang bertajuk mengukir sejarah digital untuk Indonesia emas menuju Asta Cita pemerintah, yakni pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Presentasi visi dan misi bertajuk mengukir sejarah digital untuk Indonesia emas, yang kami kontribusikan untuk menuju Asta Cita pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Dicky dalam rapat dengar pendapat umum calon Deputi Gubernur BI bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (26/1).

Dicky mengatakan pertumbuhan ekonomi keuangan digital Indonesia sangat pesat selama sembilan tahun terakhir, terutama sejak Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) diluncurkan pada 2019.

"Ketika QRIS diluncurkan 2019, ini tumbuhnya eksponensial. Transaksi digital tumbuh signifikan, kemudian BI-FAST (Bank Indonesia Fast Payment) kita memfasilitasi transaksi perekonomian dengan jumlah yang cukup meyakinkan. Ini jumlahnya mencapai 1,6 quadrillion," jelasnya.

Ia pun menjelaskan apabila jumlah uang yang beredar di masyarakat naik dan channel atau sistem pembayarannya lancar, maka kecepatan perputaran uang atau velositas akan ikut tumbuh.

"Nah kalau money-nya cukup, lancar beredar, tinggal bagaimana kita mendorong pendapatan masyarakat, dan ujungnya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi. Nah di sini kami akan kontribusikan bagaimana digitalisasi akan mendukung pertumbuhan ekonomi," kata Dicky.

Kendati demikian, Dicky menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia menghadapi sejumlah tantangan besar, seperti geopolitik, polarisasi, risiko siber, defisit neraca berjalan, pelemahan daya beli hingga angka pengangguran. Dia mengusulkan digitalisasi sebagai jawaban dari tantangan tersebut.

"Jawaban dari tantangan ini ada pada upaya kita menegakkan pilar digitalisasi sebagai salah satu game changer," tegasnya.

Kemudian, ia mengungkapkan BI mencatat volume pertumbuhan transaksi digital bisa mencapai Rp147,3 miliar dalam lima tahun, setelah tahun ini tumbuh berkisar Rp37 miliar.

"Kami di BI memproyeksikan pertumbuhan digital ini akan bisa mencapai hingga Rp147,3 miliar setelah dalam lima tahun, terakhir tumbuh Rp37 miliar," ungkap Dicky.

[Gambas:Video CNN]

(fln/ins)

Read Entire Article
| | | |