Cara Melindungi Anak dari Paparan Abu Vulkanik Anak Krakatau

2 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap paparan abu vulkanik. Partikel abu yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu batuk, pilek, hingga sesak napas.

Berikut cara melindungi anak dari paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material ini merupakan campuran pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus yang dapat mengiritasi saluran pernapasan ketika terhirup.

Paparan juga dapat mengganggu mata dan kulit, sementara kualitas udara yang memburuk dapat menjadi masalah lebih serius bagi anak dengan kondisi kesehatan tertentu.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), mengatakan paparan abu vulkanik dapat menimbulkan berbagai gangguan pernapasan akut.

"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," jelas Wahyuni.

Berikut hal yang bisa dilakukan orang tua untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik sesuai rekomendasi IDAI.

1. Usahakan anak tetap di dalam rumah

Father working from home while his two children are playing in the living roomIlustrasi. Pastikan anak tetap berada di dalam rumah untuk mencegah paparan abu vulkanik. (Foto: iStock/NoSystem images)

Pilihan terbaik ketika udara memburuk akibat hujan abu vulkanik adalah menjaga anak tetap berada di dalam rumah. Tutup rapat pintu, jendela, dan celah yang memungkinkan abu masuk.

Matikan perangkat yang menarik udara dari luar, seperti AC, atau gunakan mode recirculation agar udara di dalam ruangan disirkulasikan kembali.

Hindari menyalakan kipas angin karena embusannya dapat membuat abu yang mengendap di lantai atau furnitur kembali beterbangan dan terhirup.


2. Gunakan masker sesuai usia anak

Jika anak harus keluar rumah, gunakan masker khusus anak yang terpasang dengan baik. Masker ini penting untuk menyaring partikel abu yang masuk ke saluran pernapasan.

Anak dengan riwayat asma atau alergi saluran napas juga perlu tetap membawa obat-obatan rutin atau obat pelega yang telah diresepkan dokter.

Selain itu, hindarkan anak dari sumber polusi lain di dalam rumah, seperti asap rokok dan asap dapur, yang dapat semakin mengiritasi saluran pernapasan.


3. Lindungi mata dan kulit anak

Abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Karena itu, jika harus berada di luar, pakaikan anak pakaian yang menutupi kulit serta kacamata anak untuk mengurangi paparan abu pada mata.

Jika mata terkena abu dan terasa perih, bilas dengan air bersih mengalir dan jangan menguceknya. Setelah anak kembali dari luar rumah, mandikan dan ganti pakaiannya untuk menghilangkan abu yang menempel.


4. Bersihkan rumah tanpa membuat abu beterbangan

Saat membersihkan abu vulkanik, jauhkan anak dari area tersebut. Hindari menyapu abu dalam kondisi kering karena aktivitas ini dapat membuat partikel kembali beterbangan ke udara.

Sebagai gantinya, gunakan lap, kain basah, atau disiram agar abu tidak beterbangan. Pastikan pula wadah makanan dan minuman anak terlindung dari paparan abu.


5. Jangan abaikan keluhan anak

Orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi anak selama paparan abu vulkanik, terutama jika memiliki riwayat asma, alergi, penyakit paru kronis, atau kondisi kesehatan tertentu.

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda gangguan pernapasan, seperti napas yang semakin cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen berdasarkan pengukuran dengan oksimeter.

Batuk atau sesak yang semakin berat pada anak dengan asma juga perlu mendapat perhatian segera.

Selain kesehatan fisik, orang tua juga perlu memperhatikan kondisi psikologis anak. Jelaskan kondisi sesuai usianya, validasi rasa takutnya, dan batasi paparan terhadap video atau konten bencana yang dapat membuat anak semakin cemas.

Demikian cara melindungi anak dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung.

(fef)

Read Entire Article
| | | |