Polda-Pemprov Koordinasi Antisipasi Tujuh Gunung Api Aktif di Maluku

1 hour ago 5

Ambon, CNN Indonesia --

Polda Maluku dan Pemerintah Provinsi Maluku menggelar rapat terkait pembahasan kondisi tujuh gunung api aktif di wilayah provinsi tersebut awal pekan ini, Selasa (8/9).

Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan dan Antisipasi Potensi Ancaman Sebaran Abu Vulkanik dipimpin Wakapolda Maluku, Brigjen Pol Arif. Dalam paparan, Karo Ops Kombes Pol Monang Marudu Zonir Simanjuntak menerangkan ada total tujuh gunung api aktif di wilayah Maluku.

Tujuh gunung itu adalah Banda Api, Wurlali, Nila, Serua, Wetar, Manuk, dan Teon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menerangkan, berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, sejauh ini cuma Gunung Banda Api yang statusnya dalam kondisi Waspada atau Level II. Hal itu, katanya, akibat ada peningkatan aktivitas vulkanik yang didominasi kegempaan vulkanik dangkal dan vulkanik dalam.

Gunung Banda Api memiliki ketinggian mencapai 640 meter dari permukaan laut. Saat ini, kata dia gunung Banda Api tersebut teramati mengeluarkan hembusan asap berwarna putih dari kawah puncak.

Diperkirakan pemantauan secara berkelanjutan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik serta koordinasi antarpemerintah daerah, aparat keamanan, hingga instansi terkait.

Mengutip dari laman Magma ESDM pada pantauan per Selasa lalu, Gunung Banda Api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II dan asap kawah tidak teramati.

Sementara itu, untuk enam gunung api aktif lainnya di Maluku saat ini statusnya masih normal.

Gunung Api Wurlali terletak di Pulau Damar Kabupaten Maluku Barat Daya, gunung tersebut memiliki ketinggian 869 mdpl dari permukaan laut dengan aktivitas solfatara dan fomarol.

Gunung Api Nila terletak di Pulau Nila Kabupaten Maluku Barat Daya.

Gunung Api Serua yang terletak di laut Banda Kabupaten Maluku Tengah yang juga bagian dari gugusan kepulauan vulkanik.

Lalu, gunung api Wetar yakni gunung berapi bawah laut dan Pulau solfatara kecil di perairan Kabupaten Maluku Barat Daya.

Kemudian Gunung api Teon yang merupakan Pulau gunung api lain di gugusan kepulauan Teon Nila Serua.

Dan, Gunung Api Manuk yang merupakan salah satu pulau gunung api solfatara tak berpenghuni di ujung timur laut Banda.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Sadiki Lie mengatakan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya letusan gunung api aktif di Maluku salah satunya yang dipersiapkan adalah mitigasi, terutama kesiapsiagaan peralatan pengevakuasian secara dini.

Ia mengatakan kesiapsiagaan harus dibangun jauh sebelum potensi ancaman berkembang menjadi persoalan yang lebih besar dan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Menurutnya langkah antisipasi tersebut merupakan bentuk prinsip kehati-hatian pemerintah dalam melindungi masyarakat.

Meski begitu, tujuh gunung api aktif tersebut sejauh ini terpantau belum kelihatan alias berpotensi letusan dan menimbulkan abu vulkanik hingga berdampak bagi masyarakat namun upaya antisipasi harus disiapkan jauh-jauh hari.

Ia lantas meminta setiap instansi mulai saat ini melakukan inventarisasi terhadap personel, peralatan, fasilitas maupun dukungan lainnya karena sewaktu-waktu dapat digunakan dalam menghadapi kondisi darurat.

"Terkait dengan kondisi beberapa gunung api aktif di Maluku, kita antisipasi terkait dengan letusan itu, kita rapatkan, sehingga rapat koordinasi ini akan menghasilkan apabila hal itu terjadi," ujar Sadikie Lie dalam rapat di Gedung Polda Maluku, Ambon tersebut.

Sementara Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, Kamari mengatakan curah hujan di Maluku sepanjang Januari hingga Agustus 2026 berpotensi menurun sekitar 17,5 milimeter dibanding tahun sebelumnya 1.22 milimeter.

"Bapak ibu bisa melihat warna biru itu di tahun 2025, tahun kemarin, curah hujan itu sampai 1.22 milimeter,"ujarnya.

"Nah, sekarang di tahun 2026 hanya 17,5. Itu, artinya apa, turun sekitar 80 sampai 90 persen," tambah dia menjelaskan.

Ia berkata penurunan curah hujan selama kurun waktu delapan bulan terakhir cukup dirasakan amat luar biasa. Seperti, dampak yang dirasakan di Pulau Kelang, Kabupaten Seram Bagian Barat, Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur dan Pulau Ai Kabupaten Maluku Tengah.

"Tiga wilayah ini kekeringan sehingga warga kesulitan air," ucapnya.

Tak hanya kesulitan air bersih akibat imbas fenomena Elnino. Kekeringan juga memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di Pulau Buru.

(sai/kid)

Read Entire Article
| | | |