LAPORAN DARI PARIS
Fandy Stuerz | CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 16:30 WIB
Matthieu Blazy memamerkan koleksi debut couture-nya bersama Chanel di Paris Couture Week, Selasa (27/1). (REUTERS/Gonzalo Fuentes)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah Jonathan Anderson mengeluarkan koleksi debut couture-nya untuk Dior, kini giliran Matthieu Blazy yang untuk gigi bersama Chanel. Debut ini telah lama dinanti-nanti.
Blazy menjadi direktur kreatif generasi baru yang bakal ikut menentukan reposisi intelektual tentang apa itu couture bagi industri mode di zaman kiwari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bawah kubah Grand Palais, Blazy memperkenalkan koleksi couture pertamanya dengan tampilan-tampilan yang terasa ringan, namun sarat perhitungan historis.
Kembalinya Chanel ke Grand Palais bukan kebetulan. Rumah mode ini menjadi patron utama renovasi gedung ini, menyumbang sekitar €25 juta untuk restorasi ruang ikonis tersebut dan berkomitmen sekitar €30 juta untuk program budaya serta artistik selama lima tahun ke depan.
Membuka peragaan dengan setelan kotak khas Chanel, Blazy langsung menyentuh inti warisan rumah mode ini. Namun, alih-alih tweed atau bouclé klasik, ia memilih mousseline sutera ultra-tipis, nyaris transparan.
Rantai khas yang biasanya tersembunyi di kelim jaket kini menjadi elemen visual yang berkilau di bawah cahaya. Ini adalah Chanel dengan elemen-elemen yang mudah dikenali. Namun, oleh Matthieu, elemen-elemen ini dipreteli, direduksi, lalu dirakit ulang.
Pendekatan ini mengingatkan pada semangat Coco Chanel sendiri, yang sejak awal menolak kekakuan mode seperti korset dan rok panjang serta memprioritaskan gerak, kenyamanan, dan kebebasan bergerak tubuh perempuan.
Di sepanjang koleksi ini, Blazy bermain dengan trompe l'œil, sebuah bahasa visual yang pernah ia eksplorasi secara radikal di Bottega Veneta dan sebelumnya di Maison Margiela.
Jeans biru pucat yang ternyata terbuat dari mousseline sutra transparan, atau little black dress yang dari depan tampak klasik namun terbuka di bagian punggung dengan detail bulu merah di tulang belikat, menunjukkan ketertarikannya pada ilusi dan kejutan.
Teknik di atas terasa segar buat Chanel, rumah mode yang selama era Karl Lagerfeld lebih sering mengandalkan repetisi simbolik, inovasi radikal, dan spektakel referensial.
Tema burung dan alam menjadi benang merah koleksi ini, bukan dalam bentuk literal, melainkan melalui tekstur dan teknik.
Atelier Lemarié dan Lesage, yang keduanya dimiliki oleh Chanel dibawah naungan Le 19m, bekerja pada level ekstrem. Bulu dipotong dengan presisi dan kompleksitas hingga menyerupai tweed, jaket tampak seperti wol padat padahal seluruhnya tersusun dari lapisan bulu, sementara tas quilted ikonis Chanel dibuat nyaris transparan.
Matthieu Blazy memamerkan koleksi debut couture-nya bersama Chanel. (AFP/GEOFFROY VAN DER HASSELT)
Dalam shownote yang diterima CNNIndonesia.com, Blazy menyebutnya sebagai 'kehidupan interior yang diekspos ke luar', sebuah pernyataan konseptual yang jarang terdengar lugas di Chanel era sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan Virginie Viard, yang cenderung menafsirkan Chanel melalui lensa feminitas lembut dan nostalgia pribadi terhadap Gabrielle Chanel, Blazy terasa lebih analitis dan eksperimental. Viard sering menciptakan koleksi dengan memelihara kontinuitas emosional, yang sekilas tampak ringan dan lebih simpel dari pendahulunya, sementara Blazy memilih membongkar struktur.
Casting multigenerasi dan dengan beragam warna kulit menjadi pernyataan tersendiri, diperkuat oleh keputusan Blazy meminta setiap model menyelipkan elemen personal seperti inisial, tanggal lahir, atau sepenggal puisi, yang kemudian disulam oleh Lesage di bagian dalam busana atau di saku tas. Couture, melalui gestur ini, bukan hanya menjadi kanvas keterampilan teknis, tetapi juga wadah narasi personal.
Pendekatan ini selaras dengan filosofi awal haute couture sebagai pakaian yang diciptakan untuk satu individu tertentu, dan bukannya objek pamer.
Coco Chanel pernah mengatakan bahwa kemewahan harus nyaman. Blazy memperbarui prinsip itu dengan menegaskan bahwa kemewahan juga harus bermakna secara emosional.
Pernyataannya bahwa couture adalah 'jiwa Chanel' terdengar klise, namun koleksi ini memberi bobot nyata pada klaim tersebut.
Meski demikian, ada momen ketika gambaran ala dunia dongeng seperti jamur-jamur raksasa yang dibangun sebagai set venue, atau burung animasi yang ditampilkan di teaser, nyaris tergelincir ke wilayah yang terlalu 'manis' untuk rumah mode yang dibangun di atas semangat modernitas radikal. Coco Chanel terkenal alergi terhadap hal-hal 'cutesy', namun Blazy berhasil menghindari jebakan itu dengan menjaga kedewasaan koleksi ini melalui siluet dan konstruksi.
Debut ini juga menandai arah baru Chanel pasca-Lagerfeld, sebuah era yang selama tiga dekade sangat bergantung pada karisma satu figur.
Matthieu Blazy memamerkan koleksi debut couture-nya bersama Chanel di Paris Couture Week. (AFP/GEOFFROY VAN DER HASSELT)
Blazy, di usia 41 tahun, memilih jalan berbeda. Ia memilih tidak mendominasi, paling tidak untuk karya couture pertamanya di Chanel. Alih-alih mendominasi, ia memilih untuk lebih menyelami esensi dari rumah mode ini.
Hasilnya adalah koleksi couture yang terasa hidup. Meskipun berpijak pada nilai-nilai dasar yang dibangun Chanel dan Karl, namun tidak terperangkap di dalamnya.
Setelah sepeninggal Karl, Chanel memang menjadi salah satu powerhouse secara finansial, namun kerap kali menjadi bahan kritik dan bukan lagi penentu atau bahkan pendikte tren.
Kali ini, dengan pelan tapi pasti Matthieu membawa Chanel terbang kembali.
(asr/asr)


















































