China Mulai Lirik Aliansi Baru Bak NATO antara Turki, Saudi, Pakistan

2 hours ago 9

Jakarta, CNN Indonesia --

China disebut mulai melirik Pakta Pertahanan Makkah, aliansi pertahanan bak Organisasi Pakta Negara Atlantik (NATO), yang baru disepakati Turki, Arab Saudi, dan Pakistan.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengekspresikan dukungan penuh terhadap kesepakatan itu. Dia juga menyampaikan keinginan untuk bekerja sama dengan ketiga negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kerangka kerja seperti itu bisa membantu mencari solusi jangka panjang untuk konflik regional, mengatasi tantangan yang muncul dalam keadaan sulit, dan melindungi hak dan kepentingan sah negara-negara berkembang," demikian laporan CGTN pada Minggu (9/8), mengutip pernyataan Wang Yi.

Dukungan China terhadap Perjanjian Mekah dan usulannya untuk kerja sama keamanan dipandang sebagai perkembangan penting di tengah perubahan dinamika geopolitik di kawasan tersebut.

Para pakar menilai Inisiatif itu mencerminkan hubungan yang erat antara China dan dunia Islam. Dukungan Beijing ke tiga negara itu juga menunjukkan penguatan hubungan dengan Pakistan, Arab Saudi, dan Turki.

China memiliki hubungan yang dekat dengan Pakistan, dan Islamabad bergantung secara militer dan persenjataan ke Beijing.

Pakar hubungan internasional Imran Khurshid, dalam analisisnya di Middle East Forum, mengatakan China menggunakan Pakistan untuk promosi senjata sebagai pintu masuk untuk ke lanskap pertahanan kawasan ini.

"Selain itu, jika 'NATO Islam' potensial yang dibicarakan oleh banyak negara ini, termasuk Pakistan dan Turki, terwujud, China mungkin akan percaya bahwa mereka memiliki pasar yang lebih besar," kata Khushid, dikutip South China Morning Post (SCMP).

Khurshid, lebih lanjut, mengatakan China kerap mengiklankan platform senjata dan membangun narasi seputar sistem pertahanannya di kawasan termasuk klaim keberhasilan jet tempur JF-17 selama konflik India-Pakistan tahun lalu.

Hubungan militer itu bisa lebih signifikan seiring dengan semakin eratnya hubungan Saudi dengan Pakistan.

Berdasarkan pakta pertahanan bersama Saudi-Pakistan yang ditandatangani tahun lalu, Islamabad mengirimkan jet tempur JF-17 dan sistem buatan Beijing lain ke Riyadh, memberikan mereka visibilitas dan pengalaman operasional yang lebih besar.

Khurshid mengatakan kesepakatan semacam itu menciptakan kemitraan yang langgeng karena biasanya melibatkan komitmen jangka panjang terkait pemeliharaan, suku cadang, pelatihan, dan dukungan logistik. Dengan begitu China bisa menanamkan sistem persenjataan lebih dalam ke penerima.

Sementara itu, pakar dari Atlantic Council Michael Kugelman mengatakan ketiga negara yang menandatangani pakta berusaha keras untuk tidak menampilkan diri ala NATO.

"Mereka ingin menghindari kesan antusias menggabungkan sumber daya mereka untuk membeli senjata China," kata Kugelman.

"Oleh karena itu, transaksi semacam itu akan dilakukan secara diam-diam dan juga tidak dalam volume besar," imbuh dia.

Kugelman lalu menduga Turki mungkin bisa menyediakan ke Pakistan dan Saudi apa yang bisa disediakan China, dan dengan harga yang lebih baik.

Kombinasi hubungan dekat China dengan Pakistan dan ambisi strategisnya yang lebih luas di Timur Tengah bisa memberi Beijing jalur tak langsung untuk memasuki arsitektur pertahanan Teluk.

Karena itu pula lah pakar dari New Pakistan Foundation Ali Chisthi yang China "sangat gembira" dengan kesepakatan tiga negara itu.

(isa/rds)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |